Tak Ganggu Investasi, Aksi 22 Mei Disebut "Hiccup" Berdemokrasi

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut aksi massa pada 22 Mei lalu merupakan "hiccup" atau cegukan dalam demokrasi yang dinilai tidak akan mengganggu investasi.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 24 Mei 2019  |  23:00 WIB
Tak Ganggu Investasi, Aksi 22 Mei Disebut
Menperin Airlangga Hartarto di acara Buka Bersama Puasa Ramadan, Jumat (24/5 - 2019). KEMENPERIN

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut aksi massa pada 22 Mei lalu merupakan hiccup atau cegukan dalam demokrasi yang dinilai tidak akan mengganggu investasi.

"Investasi insya Allah tidak terganggu karena ini kami sebut hiccup dalam demokrasi," katanya seusai buka puasa bersama Kadin di Jakarta, Jumat (24/5/2019).

Namun, Airlangga menyayangkan aksi yang cukup mengganggu aktivitas perekonomian di Jakarta itu, bahkan hingga sempat melumpuhkan Pasar Tanah Abang yang seharusnya ramai menjelang hari raya Idulfitri.

Pasalnya, gelaran Pemilu yang paling kompleks di dunia itu dinilainya telah berjalan dengan baik. "Tetapi akhirnya jadi masalah pada saat penghitungan," ujar Airlangga, yang juga Ketua Umum Partai Golkar.

Airlangga berharap aktivitas perekonomian bisa berjalan seperti sediakala. Ia juga mengapresiasi kinerja TNI dan Polri yang telah menjaga ketertiban secara profesional. Duka cita mendalam juga ia sampaikan atas jatuhnya korban jiwa dalam aksi tersebut.

"Tentu kejadian ini sangat disayangkan. Tapi dengan kemarin diselesaikan secara baik oleh polisi dan aparat TNI, hari ini pasar merespons positif baik itu pasar modal maupun pasar keuangan," imbuhnya.

Seperti dikutip dalam tweet Kemenperin, iklim usaha yang kondusif menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan para investor di Tanah Air. Indonesia dinilai sebagai negara yang damai, karena telah menyelenggarakan pemilu terbesar di seluruh dunia selama satu hari.

Kemenperin mencatat, investasi di sektor industri manufaktur terus tumbuh signifikan. Pada 2014, penanaman modal masuk sebesar Rp195,74 triliun, kemudian naik mencapai Rp222,3 triliun pada 2018. Peningkatan investasi ini mendongkrak penyerapan tenaga kerja hingga 18,25 juta orang pada 2018, yang berkontribusi sebesar 14,72% terhadap total tenaga kerja nasional.

Pada tahun ini, industri manufaktur ditargetkan bertumbuh 5,4%. Subsektor yg diperkirakan tumbuh tinggi, a.l industri mamin, permesinan, tekstil dan pakaian jadi, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, serta barang logam, serta komputer dan barang elektronika

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Investasi Manufaktur, Aksi 22 Mei

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top