Pasca Pemilu, Menkeu : Pelaku Pasar Masih Optimistis

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa kalangan dunia usaha sudah memahami dan mengantisipasi terhadap sejumlah kemungkinan yang bakal timbul dari adanya jadwal pengumuman pemenang Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  17:48 WIB
Pasca Pemilu, Menkeu : Pelaku Pasar Masih Optimistis
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 dalam Sidang Paripurna DPR di Jakarta, Senin (20/5/19). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa kalangan dunia usaha sudah memahami dan mengantisipasi terhadap sejumlah kemungkinan yang bakal timbul dari adanya jadwal pengumuman pemenang Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut mengatakan bahwa meskipun pada 22 Mei 2019 terjadi sejumlah aksi, dia melihat dunia usaha masih percaya bahwa perekonomian Indonesia masih akan tetap baik.

"Seluruh investor, pelaku ekonomi, sebetulnya sudah memahami bahwa pengumuman KPU dan pemenang itu melalui berbagai macam indikator, mereka sudah antisipasi. Jadi, tidak ada yang disebut element of surprise mengenai itu," ujarnya disela konferensi pers KSSK di Kementerian Keuangan, Kamis (23/5/2019).

Menurutnya, sejumlah ucapan selamat yang diberikan oleh para kepala negara kepada pemenang Pilpres 2019 menggambarkan bahwa dunia internasional percaya terhadap penyelenggaraan pemilu di Indonesia.

Bahkan acara buka puasa yang digelar Apindo, bertepatan pada terjadinya aksi massa, Rabu (22/5/2019), juga menggambarkan bentuk kepercayaan diri mereka bahwa ekonomi Indonesia masih akan tetap baik pascapengumuman Pilpres 2019 oleh KPU.

"Saya rasa itu adalah pandangan yang benar dan harus tetap dipertahankan karena kita percaya bahwa aparat penegak hukum akan bisa menangani sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur kita semua di Republik ini," ujarnya.

Adapun terkait nilai tukar rupiah yang beberapa waktu belakangan ini mengalami tekanan, menurutnya hal itu lebih disebabkan oleh faktor eksternal, yakni memanasnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

Sri Mulyani menilai bahwa tindakan dari pemerintah Amerika Serikat yang menaikkan tarif impor komoditas dari Cina tersebut tidak pernah diduga oleh banyak pihak.

"Seluruh policy maker tidak mengantisipasi perubahan yang sangat drastis itu. Sinyal itu memang membuat seluruh pasar saham dan pasar obligasi di seluruh dunia termasuk nilai tukar terpengaruh," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, investasi, perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup