Industri Bubuk Kopi Mengalami Stagnasi, Ini Penyebabnya

Akselerasi pertumbuhan lapangan usaha industri bubuk kopi dimulai pada 2012. Saat itu, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEIKI) mencatatkan lonjakan volume ekspor bubuk kopi mencapai sekitar 20.000 ton pada semester I/2012 dari sekitar 8.000 tona pada akhir tahun sebelumnya.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  09:30 WIB
Industri Bubuk Kopi Mengalami Stagnasi, Ini Penyebabnya
Kopi rempah - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Akselerasi pertumbuhan lapangan usaha industri bubuk kopi dimulai pada 2012. Saat itu, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEIKI) mencatatkan lonjakan volume ekspor bubuk kopi mencapai sekitar 20.000 ton pada semester I/2012 dari sekitar 8.000 tona pada akhir tahun sebelumnya. Namun, asosiasi melihat masa kejayaan industri kopi bubuk tersendat pada 2018.

Di sisi lain, AEIKI menyatakan volume produksi biji kopi pada tahun ini akan tumbuh 5%--10% menjadi 708.367 ton. Asosiasi menilai puncak pertumbuhan akan terjadi pada Juni—Juli 2019 mengingat faktor cuaca diproyeksi tidak menjadi tantangan sepanjang semester I/2019.

Ketua Departemen Specialty & Industry BPP AEIKI Moelyono Soesilo mengatakan industri bubuk kopi menyerap 56,71% dari total produksi biji kopi tahun lalu atau sekitar 380.000 ton. Moelyono menambahkan, industri bubuk kopi membukukan rata-rata pertumbuhan 5%--6% selama 2012—2017. Namun demikian, lanjutnya, pada akhir tahun lalu industri bubuk kopi hanya mampu tumbuh sekitar 1% secara tahunan.

“Tidak banyak konsumsi yang meningkat [pada tahun lalu]. [Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh] tidak adanya suatu inovasi yang baru, jadi konsumen agak jenuh,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (22/5/2019).

Moelyono menambahkan keadaan tersebut akan berlanjut sepanjang tahun ini dan kemungkinan akan kembali ke level semula pada 2020/2021. “Slowdown dulu, seperti orang lari, tidak mungkin dia sprint terus.”

Selain itu, menurutnya, stagnansi tersebut juga disebabkan oleh persaingan industri bubuk kopi yang semakin ketat di pasar domestik. Menurutnya, perlu ada suatu inovasi baru terhadap produk bubuk kopi maupun dalam strategi penjualan.

Moelyono mencatat pada akhir tahun lalu volume produksi bubuk kopi nasional mencapai 300.000—380.000 ton. Secara komposisi, permintaan dalam negeri mendominasi penyerapan atau sebesar 84,21% atau 320.000 ton, sedangkan permintaan ekspor mencapai 60.000 ton.

Moelyono mengutarakan tantangan pemasaran bubuk kopi di pasar global adalah penerapan bea masuk anti dumping (BMAD) maupun proteksi lainnya yang diterapkan kepada produk bubuk kopi Tanah Air. Sebagai contoh, pada kuartal III/2018 Filipina menerapkan Special Agricultural Safeguard untuk produk kopi bubuk asal Indonesia.

Moelyono menyampaikan asosiasi telah berbicara dengan beberapa pihak terkait investasi baru di industri bubuk kopi. Namun demikian, ujarnya, realisasi investasi tersebut belum akan terealisasi dalam waktu dekat.

“Semua [investor] tunggu pemilu ini selesai ya kelihatannya. [Realisasinya] munkin semester II/2019 atau semester I/2020,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi robusta

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top