Produksi Kopi Diperkirakan Naik Hingga 10%

Gabungan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) memperkirakan produksi kopi pada 2019 akan meningkat mulai 5% sampai 10% dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini akan menjadikan produksi kopi 2019 menempati tingkat tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 22 Mei 2019  |  09:04 WIB
Produksi Kopi Diperkirakan Naik Hingga 10%
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) memperkirakan produksi kopi pada 2019 akan meningkat mulai 5% sampai 10% dibanding tahun sebelumnya.

Kenaikan ini akan menjadikan produksi kopi 2019 menempati tingkat tertinggi dalam lima tahun terakhir.

"Faktornya cuaca, untuk saat ini tidak ada yang menganggu," ungkap Ketua GAEKI Hutama Sugandhi saat dihubungi Bisnis, Senin (20/5/2019).

Hutama belum bisa menjabarkan performa produksi untuk kuartal I, namun ia memprediksi puncak panen kopi akan terjadi pada Juni-Juli.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi kopi Indonesia pada 2018 mencapai 674.636 ton. Jika kenaikan sebesar 5% tercapai, maka total produksi sepanjang 2019 bisa menyentuh 708.367 ton, terbesar dalam lima tahun terakhir.

Berbeda dengan Hutama, Ketua Dewan Kopi Indonesia Anton Apriyantono menilai produksi kopi nasional belum akan mengalami peningkatan siginifikan tahun ini meski produsen lain seperti Brasil memproyeksikan pertumbuhan pada 2019.

"Saya kira belum akan ada kenaikan yang signifikan. Karena beberapa tahun terakhir mengalami penurunan dan baru saja bangkit. Tentu hal ini belum bisa dirasakan dalam dua tiga tahun," ungkap Menteri Pertanian periode 2004-2009 itu pada Bisnis, Senin (20/5/2019).

Anton pun menyoroti faktor jangka panjang yang mengakibatkan performa produksi kopi Indonesia tidak seperti Brazil atau Vietnam. Menurutnya, di kedua produsen kopi terbesar dunia tersebut, komoditas kopi sudah ditanam dengan sistem perkebunan yang tertata rapi.

"Di Indonesia, yang tertata seperti itu belum banyak. Kebanyakan masih dengan lahan hutan. Jadi kalau untuk peningkatan produksi tidak mudah, kecuali kita melakukan plantation [penataan kebun] di area yang lebih mudah dikelola," tambahnya.

Anton mengungkapkan peningkatan produksi sangat mungkin terwujud lewat perluasan area tanam. Namun di sisi lain perluasan juga menghadapi kendala dari komoditas lain.

"Lahannya sudah berebut dengan komoditas lain dan lahan yang paling luas lagi-lagi ada di hutan, misal area Perhutani dan hutan sosial," kata Anton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perkebunan, kopi

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top