Rhenald Kasali : BUMN Bukan Lagi Lazy Company

BUMN tidak bisa lagi dinilai sebagai lazy company. Berbagai aktivitas pembangunan yang melibatkan BUMN terutama di wilayah yang tidak diminati swasta menjadi salah satu bukti.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 16 April 2019  |  17:43 WIB
Rhenald Kasali : BUMN Bukan Lagi Lazy Company
Rhenald Kasali - rhenaldkasali.com

Bisnis.com, JAKARTA  -  Badan Usaha Milik Negara atau BUMN tidak bisa lagi dinilai sebagai lazy company.

BUMN dinilai sudah mampu memberikan kontribusi ekonomi. Ada banyak fakta BUMN mulai bergerak, tidak lagi menjadi lazy company, dan mulai berkontribusi besar pada perekonomian.

Demikian disampaikan Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali menanggapi tudingan bahwa BUMN tidak memberikan kontribusi dan salah kelola.

“BUMN turut berjuang untuk membuka daerah-daerah terpencil, misalnya Angkasa Pura II yang turut mengelola Bandara Silangit, kemudian Banyuwangi yang kini telah diperbesar," ujar Rhenald dalam keterangan persnya, diterima Selasa (16/4/2019).

Rhenald menambahkan, "Pekerjaan yang kira-kira swasta tidak berani masuk dan pemerintah daerah juga ingin melepas, kini ditangani oleh BUMN."

Saat ini, lanjut Rhenald, BUMN tengah mengembangkan bandara di Purbalingga. "Bayangkan bertahun-tahun ekonomi sudah berkembang di sana, namun masih kurang perhatian untuk pembangunan bandara di wilayah itu. Jalan tol dibangun juga karena pihak swasta tidak ada yang berminat untuk itu, maka di situ lah BUMN masuk,” jelas Rhenald.

Rhenald menjelaskan bahwa BUMN juga turun mengaktifkan langkah-langkah mengharumkan nama bangsa, terutama untuk menjalankan amanah pasal 33 konstitusi, yaitu mengambil alih dari asing.

"Freeport sudah masuk, Blok Mahakam, Blok Rokan juga sudah masuk," ujar Rhenald yang menilai BUMN telah menjalankan peran ini dengan baik.

Terkait tudingan-tudingan terhadap holding BUMN, Rhenald berpendapat bahwa holding BUMN malah dapat membantu kelengkapan dan membuat lebih besar, dan memberikan kemampuan untuk melakukan financial laveraging

"Laveraging itu berarti menjadi lebih besar, karena kapasitasnya menjadi lebih besar," tegas Rhenald.

Rhenald mencontohkan soal Garuda Indonesia. Dalam debat, ujar Rhenald, disebutkan bahwa sampai kapan pun Garuda Indonesia tidak akan pernah untung, karena load factor-nya harus mencapai setidaknya 120 persen.

Terkait tudingan itu, Rhenald menyebutkan bahwa kita cenderung melihat Garuda itu untungnya atau bisnisnya adalah penumpang.

"Padahal bisnis terbersar airlines itu ada di jasa cargo dan selama ini cargo yang menikmati bukan airlines, bukan juga Angkasa Pura. Siapa yang menikmati? Yang menikmati adalah pihak asing di Indonesia. Mereka punya perusahaan penerbangan yang khusus mengangkat cargo, mereka mempunyai pelabuhan yang khusus spesialis mengenai cargo,” Papar Rhenald.

Rhenald mencontohkan kasus holding seperti yang dilakukan Singapura. "Bila Singapore Airlines masuk ke seluruh negara, tidak hanya Singapore Airlines yang akan masuk, tetapi juga airport-nya. Makanya airport Singapore bisa mengelola airport lain di dunia," ujar Rhenald.

“Dengan holding mereka  bisa menjamin, kalau saya mengelola airport di negara Anda, saya akan bawa cargo, saya akan bawa penumpang. Bisa seperti itu,” ujar Rhenald. 

“Indonesia kenapa tidak bisa? Karena kita mainnya sendiri-sendiri, airport sama airlines saling injek-injekkan. Sekarang harus sinergi, sehingga dengan begitu menjadi kuat, besar, dan kita tidak ditertawakan lagi oleh negara tetangga. Airlines kalau hanya mengandalkan passenger sampai kapan pun tidak akan bisa untung,” lanjut Rhenald.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn, rhenald kasali

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top