Inflasi Maret Capai 0,11 Persen, Tarif Pesawat Masih Membebani

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menuturkan inflasi Maret sebesar 0,11 persen disumbang oleh kenaikan harga bawang merah, bawang putih dan tarif angkutan udara. Sementara itu, komoditas yang menghambat inflasi a.l. ayam ras, telur ayam ras dan beras.
Hadijah Alaydrus | 01 April 2019 11:46 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memberikan paparan dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (6/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA--Indeks Harga Konsumen (IHK) per Maret menunjukkan posisi inflasi sebesar 0,11 persen didorong oleh kenaikan sejumlah bahan pangan dan tarif pesawat.

Sementara itu, IHK secara tahunan atau year on year tercatat sebesar 2,48 persen dan inflasi tahun kalendernya atau year to date sebesar 0,35 persen.

Dari 82 kota yang disurvei, 51 kota mengalami inflasi dan 31 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Ambon sebesar 0,86 persen akibat tarif angkutan udara. Inflasi terendah terjadi di Tangerang dan Bekasi. Deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 3,03 persen akibat penurunan harga ikan segar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menuturkan inflasi Maret sebesar 0,11 persen disumbang oleh kenaikan harga bawang merah, bawang putih dan tarif angkutan udara. Sementara itu, komoditas yang menghambat inflasi a.l. ayam ras, telur ayam ras dan beras.

"Tarif angkutan udara memberikan andil 0,03 persen. Tarif angkutan udara memang mengalami kenaikan yang tidak biasa tetapi kemarin sudah ada peraturan menteri perhubungan yang mengubah tarif batas bawah," ujar Suhariyanto, Senin (01/04/2019).

Sementara itu, inflasi tahunan yang mencapai sebesar 2,48 persen tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan per Maret 2018 dan 2017 yang masing-masing mencapai 3,40 persen dan 3,61 persen (yoy).

"Inflasi tahunan sebesar 2,48 persen ini menunjukkan inflasi yang terkendali," kata Suhariyanto.

Adapun, inflasi pangan bergejolak tercatat 0 persen pada Maret 2019 sehingga ini menegaskan bahwa pangan bukan menjadi pendorong utama dalam inflasi bulan lalu.

Inflasi Inti

Inflasi Maret ini disumbang oleh inflasi inti sebesar 0,16 persen (mtm), sementara secara tahunan laju inflasi inti masih cukup tinggi yakni 3,03 persen (yoy). Dengan demikian, BPS melihat tidak ada gangguan dari daya beli masyarakat. Inflasi inti meningkat dipicu oleh kenaikan harga sewa rumah dan harga perhiasan emas.

"Ini karena harga-harga relatif stabil, inflasi tahunan 2,48 persen," tegas Suhariyanto.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, bahan makanan terjadi deflasi 0,01 persen dipicu oleh penurunan harga beras, daging ayam ras, dan ikan segar dengan andil -0,03 persen, ayam ras -0,02 persen dan sayuran serta wortel sebesar -0,01 persen.

Adapun, bawang merah mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi sebesar 0,06 persen, bawang putih meningkat dengan andil 0,04 persen dan cabai merah 0,01 persen.

Sementara itu, inflasi tertinggi disumbang oleh sandang dan kesehatan sebesar 0,23 persen dan 0,24 persen. Dari kelompok sandang, emas perhiasan meningkat 0,01 persen. BPS mencatat inflasi di sektor kesehatan tidak menunjukkan komoditas yang dominan. Menurut Suhariyanto, kenaikannya terjadi merata di semua komoditas di dalamnya.

Dari sektor jasa keuangan dan transportasi, BPS mencatat inflasi sebesar 0,10 persen dengan sumbangannya 0,02 persen di mana pemicu utamanya adalah tarif angkutan udara. Adapun, bensin justru mengalami deflasi sebesar -0,01 persen.

Deflasi ini dipicu oleh adanya penyesuaian harga bensin yang terjadi mulai 10 Februari 2019. "Penurunan tampaknya berlanjut di beberapa tempat dan memberikan sumbangan deflasi," kata Suhariyanto. 

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, bps

Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup