Peta Jalan Industri Bisa Tingkatkan Tren Konsumsi Listrik

Peningkatan konsumsi listrik bisa didorong dengan upaya yang produktif, diantaranya dengan membuat peta jalan pengembangan industri nasional.
Anitana Widya Puspa | 23 Maret 2019 07:50 WIB
Pekerja memperbaiki jaringan Listrik Aliran Atas (LAA) pascakecelakaan KRL di kawasan Kebon Pedes, Bogor, Jawa Barat, Senin (11/3/2019). - ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA--Peningkatan konsumsi listrik bisa didorong dengan upaya yang produktif, diantaranya dengan membuat peta jalan pengembangan industri nasional.

Tumiran, Pakar Bidang Kelistrikan sekaligus anggota Dewan Energi Nasional menyebutkan, salah satu visi Presiden Joko Widodo untuk memperkuat sektor kemaritiman Indonesia. Dengan visi tersebut, maka Indonesia bisa mendorong perkembangan industri perkapalan di dalam negeri, dan kemudian membuat industri permesinan untuk menggerakkan kapal.

Turunan selanjutnya, kata dia, adalah membuat industri material untuk menunjang industri perkapalan dan pembuatan mesin kapal.

Dengan hadirnya industri material jadi smelter bisa digerakkan untuk proses pembuatan baja untuk pembuatan mesin kapal. Kalau industri maritim tumbuh, yang lain akan tumbuh, mendorong ekonomi bertumbuh dengan berbasis kepulauan, lalu dengan mengekspor hasil laut income per kapita dalam negeri akan naik, kalau income naik maka konsumsi listrik akan naik.

"Tanpa menaikkan ekonomi, maka permintaan konsumsi listrik dalam negeri akan sulit untuk tumbuh,”katanya Jumat (22/3/2019).

Meningkatnya kebutuhan berbagai industri yang membutuhkan pasokan listrik, apabila didukung oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional, maka sejalan dengan tekad pemerintah meningkatkan efisiensi di berbagai sektor, dan juga pasokan listrik yang semakin optimal, penurunan harga jual listrik juga mulai diimplementasikan secara perlahan.

Pada Februari 2019, Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberikan insentif berupa diskon kepada pelanggan R-I VA RTM (Rumah Tangga Mampu) mulai 1 Maret 2019, bagi 21 juta pelanggannya. Insentif ini diberikan karena adanya efisiensi pada golongan ini, selain terjadinya penurunan harga minyak dan kurs dolar. Dengan insentif ini, pelanggan golongan R-I 900 VA RTM hanya membayar listrik Rp1.300 per kilowatt hour (kWh) dari tarif normal Rp1.352 per kWh.

Saat ini, konsumsi listrik rumah tangga memang tengah mengalami tren penurunan. Sebabnya tak lain berkat hadirnya berbagai peralatan rumah tangga yang hemat energi dari mulai lampu LED, pendingin ruangan (AC) berteknologi plasma, kulkas, mesin cuci dan lain sebagainya.

“Sekarang rumah tangga sudah banyak gunakan peralatan yang lebih efisien di bidang energi. Bayangkan, lampu LED cuma 20% konsumsi listriknya dibanding lampu konvensional, begitu pula dengan tv plasma, dan lainnya,”ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
listrik

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top