Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Serapan Karet di Dalam Negeri Diyakini Naik

Pemerintah optimistis bisa meningkatkan serapan karet alam dalam negeri sesuai dengan mandat yang dihasilkan dalam rapat negara anggota Internation Tripartite Rubber Council.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 10 Maret 2019  |  09:31 WIB
Sejumlah pekerja melakukan sortasi karet di pabrik pengolahan karet Kebun Glantangan milik PTPN XII, di Tempurejo, Jember, Jawa Timur, Minggu (3/3/2019). - ANTARA/Seno
Sejumlah pekerja melakukan sortasi karet di pabrik pengolahan karet Kebun Glantangan milik PTPN XII, di Tempurejo, Jember, Jawa Timur, Minggu (3/3/2019). - ANTARA/Seno

Bisnis.com, JAKARTA- Pemerintah optimistis bisa meningkatkan serapan karet alam dalam negeri sesuai dengan mandat yang dihasilkan dalam rapat negara anggota Internation Tripartite Rubber Council.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerin Pertanian Kasdi Subagyono menyebutkan saat ini dirinya belum bisa memprediksi atau membuat target peningkatan serapan karet dalam negeri.

Kendati demikian, dia optimistis penambahan serapan karet dalam negeri tahun ini bisa meningkat sesuai dengan keputusan batasan ekspor karet alam Indonesia sebesar 98.000 ton.

"Saya belum bisa memprediksi berapa [peningkatan serapan karet alam Indonesia]. Karena dari 240.000 ton kesepakatan ITRC Indonesia kebagian 98.000, berarti meningkat 98.000," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (6/3/2017).

Dia menjelaskan, selama ini dari 618.000 ton konsumsi karet dalam negeri 40% diserap oleh industri ban. Adapun sisanya digunakan oleh industri lain seperti vulkanisir, alas kaki, sarung tangan dan lain-lain.

Ke depan, selain meningkatkan serapan di industri yang sudah ada, pemanfaatan karet untuk aspal juga menjadi salah satu upaya pemerintah.

Terkait pemanfaatan karet untuk aspal, Kasdi menyebutkan Direktorat Jenderal Bina Pembangunan daerah (Bangda) Kementerian Dalam Negeri akan segera mendorong daerah untuk mengeksekusi rencana tersebut.

"Diberikan legal bindingnya. Itu [pemanfaatan karet untuk aspal] masuk di RPJMD. Semacam diwajibkan untuk melaksanakan itu," ujarnya.

Hal serupa juga telah dilakukan oleh salah satu negara anggota ITRC yakni Malaysia yang menggunakan karet untuk konstruksi jalan. Pemerintah Malaysia pun disebut telah menyetujui alokasi dana sebesar 100 juta ringgit untuk pemeliharaan dan konstruksi jalan yang menggunakan karet di pelabuban dan lahan industri

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karet perkebunan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top