Kebutuhan Jagung Tahun Ini Naik 11,51 Juta Ton

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan memproyeksikan kebutuhan jagung sebagai pakan ternak akan meningkat pada tahun ini.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 18 Februari 2019  |  18:59 WIB
Kebutuhan Jagung Tahun Ini Naik 11,51 Juta Ton
Pekerja mengemas jagung impor yang akan didistribusikan ke peternak di Gudang Bulog, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (24/1/2019). - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan memproyeksikan kebutuhan jagung sebagai pakan ternak akan meningkat pada tahun ini.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita mengatakan kebutuhan jagung sebagai pakan ternak tahun ini naik menjadi 8,59 juta ton untuk industri pakan dan 2,92 juta ton untuk peternak mandiri.

"Ini tentunya hal yang positif karena menjadi pendorong berkembangnya agribisnis jagung di Indonesia untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani jagung sebagai motor penggerak pembangunan di pedesaan," kata Ketut, baru-baru ini.

Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan kebutuhan total penggunaan jagung 15,5 juta ton. Adapun sekitar 66% atau 10,3 juta ton digunakan untuk industri pakan dan peternak mandiri. Artinya tahun ini ada kenaikan menjadi 11,51 juta ton.

Diarmita mejelaskan bahwa kebutuhan jagung untuk bahan pakan sebenarnya dapat dicukupi dari hasil produksi di dalam negeri karena surplus. Namun ada beberapa hal yang perlu dioptimalkan dalam penyerapan jagung di dalam negeri agar tidak menjadi polemik.

Pertama, fluktuasi produksi. Mengacu pada data Pusdatin 2018, total produksi jagung selama setahun 70% diproduksi antara Januari sampai Agustus. Di sisi lain, kebutuhan industri pakan dan peternak mandiri relatif konstan sepanjang tahun.

"Fluktuasi produksi ini akan menimbulkan peluang terjadinya guncangan terhadap harga jagung domestik. Kemudian yang kedua ada pergeseran sentra produksi jagung," katanya.

Lalu yang ketiga harga jagung bukan harga tunggal yang berlaku di seluruh Indonesia. Harga di pasar, katanya, dipengaruhi oleh faktor mutu utamanya kadar air (KA), fluktuasi produksi yang dihadapkan pada kebutuhan jagung sebagai pakan ternak yang relatif konstan dan tidak tersedianya silo di sentra jagung, serta biaya transportasi.

Sementara itu, mengacu pada permendag Nomor 96/2018 mengatur lima variasi harga acuan pembelian jagung di tingkat petani berdasarkan KA yaitu : Rp3.150/kg (KA 15 %), Rp3.050/kg (KA 20%), Rp2.850/kg (KA 25%), Rp2.750/kg (KA 30%) dan Rp2.500/kg (KA 35%).

Diarmita menambahkan bahwa pengguna jagung seperti pabrik pakan, cenderung memilih dan membeli jagung dengan KA rendah, agar mempunyai daya simpan lebih panjang. Hal ini untuk menjamin kepastian produksi dan kualitas yang telah ditunjang oleh penyediaan infrastruktur berupa silo dan dryer.

Oleh sebab itu dia berharap Perum Bulog hadir sebagai stabilitator manakala menemui musim paceklik agar harga bisa dikendalikan pemerintah.

"Untuk membangun manajemen logistik dalam tata niaga jagung yang terintegrasi ini, peran Perum Bulog menjadi strategis. Karena itu kita berharap Perum Bulog dapat menjembatani kepentingan petani sebagai produsen, serta kepentingan peternak dan industri pakan sebagai pihak konsumen," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jagung, pakan ternak

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top