Wisata Halal Ditarget Sumbang 5 Juta Wisman Tahun Ini

Kementerian Pariwisata membidik sebesar 25% atau sekitar 5 juta orang dari target wisatawan mancanegara yang sebanyak 20 juta orang masuk ke pasar pariwisata halal Indonesia di tahun ini. 
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 13 Februari 2019  |  18:16 WIB
Wisata Halal Ditarget Sumbang 5 Juta Wisman Tahun Ini
Pantai Mandalika di Lombok Tengah, salah satu andalan pariwisata Nusa Tenggara Barat. - Antara/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA Kementerian Pariwisata membidik sebesar 25% atau sekitar 5 juta orang dari target wisatawan mancanegara yang sebanyak 20 juta orang masuk ke pasar pariwisata halal Indonesia di tahun ini. 

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sepanjang tahun lalu, kontribusi pariwasata halal dalam menyumbang kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 20% dari total perolehan wisman tahun 2018 yang mencapai 15,8 juta kunjungan.

Kontribusi itu meningkat dari perolehan wisatawan halal pada 2017 yang sebesar 18% dari total kunjungan wisman ke Indonesia 14,2 juta wisman atau sekitar 2,7 juta kunjungan.

Pada 2016 jumlah wisman muslim yang berwisata halal di Tanah Air mencapai 2,4 juta, naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 2 juta kunjungan.

"Perolehan wisman yang muslim hanya 20% di tahun lalu. Memang kunjungan wisman untuk wisata halal ke Indonesia masih kalah dengan negara lain yang non muslim seperti  Thailand. Tahun ini target kami naik menjadi 25% untuk pariwisata halal," ujarnya, Rabu (13/2/2019).

Pertumbuhan tinggi pariwisata halal Indonesia sangat diperlukan untuk meyakinkan pelaku bisnis Tanah Air terhadap sektor ini.

Menurutnya, wisata halal ini memiliki pasar yang luas, pertumbuhannya tinggi, dan peluang keuntungan yang besar.

Saat ini, pariwisata halal Indonesia menduduki peringkat kedua bersama dengan Uni Emirat Arab berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018.

Adapun posisi pertama diduduki oleh Malaysia. Lalu posisi ketiga, keempat dan kelima diduduki oleh Turki, Arab Saudi dan Singapura.

"Kami targetkan tahun ini Indonesia bisa menduduki peringkat pertama dalam GMTI 2019," katanya.

Dengan pariwisata Indonesia berada di peringkat pertama, maka peluang merebut pasar wisata halal global yang diproyeksikan jumlah pengeluarannya mencapai US$220 miliar pada 2020.

Untuk mendorong pariwisata halal Tanah Air, lanjutnya, diperlukan eksplorasi wisata yang cocok untuk wisatawan muslim.

Selain itu, ada keengganan daerah di Indonesia untuk mendeklarasikan diri sebagai destinasi wisata halal.

Pasalnya, ada ketakutan daerah dan pelaku usaha apabila mendeklarasikan sebagai destinasi wisata halal maka turis dari Eropa, Amerika, Australia dan lain sebagainya yang non-muslim enggan datang ke Indonesia lagi.

"Padahal kalau daerah mendeklarasikan diri sebagai wisata halal itu enggak apa-apa. Dengan deklarasi ini tentu membuat pariwisata halal ini meningkat," ucapnya.

Arief mencontohkan salah satu destinasi wisata halal yang kerap didatangi oleh wisatawan muslim yakni Nusa Tenggara Barat dimana jumlah wismannya terus meningkat dari 2015, 2016, dan 2017 yang masing-masing sebanyak 1,06 juta, 1,4 juta dan 1,43 juta kunjungan.

"Spending wisman muslim di NTB juga besar di tahun 2015 itu Rp15,7 triliun, lalu naik Rp20,8 triliun pada 2016, dan di 2017 mencapai Rp21,2 triliun," tuturnya.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata Anang Sutono menuturkan Indonesia sebagai negara muslim terbesar  di dunia memiliki potensi sangat tinggi untuk menjadi tujuan wisata utamanya.

Adapun terdapat 10 destinasi prioritas halal tengah dibina dengan menggunakan standar GMTI yakni Aceh, Riau dan Kepulauan Riau Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Malang di Jawa Timur, Lombok, dan Makassar dan sekitarnya di Sulawesi Selatan.

"Perkembangan pariwisata halal di Indonesia luar biasa. Ada 10 destinasi pariwisata halal akan membuat Indonesia menjadi pemain halal pertama di Indonesia. Tentu destinasi perlu mengenali apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan masing-masing," terangnya.

Adanya destinasi prioritas pariwisata halal ini akan menjadi jaminan kepada para wisatawan halal dalam mencari makanan, akomodasi, dan wisata halal.

"Turis yang datang ke Indonesia yang ingin berwisata halal sudah tahu tempat mana saja yang dituju. Mereka dapat jaminan halal secara keseluruhan dalam berwisata," ujarnya.

Lebih lanjutnya, dia mengatakan tahun ini sendiri pihaknya akan meyakinkan destinasi pariwisata halal di Indonesia memiliki standar global halal. Lalu di pasarkan kepada pangsa pasar halal. Adapun pangsa pasar pariwisata halal Indonesia yakni Malaysia, Singapura dan Timur Tengah.

"Ada 4 kriteria pariwisata halal menurut GMTI yakni secara akses, komunikasi, servis, dan lingkungan seperti ketersediaan restoran halal, tour guide, ketersediaan masjid," kata Anang.

Berdasarkan Mastercard-CrescentRating GMTI 2018, total pengeluaran para wisatawan Muslim secara global diperkirakan mencapai US$220 miliar pada 2020 dan mencapai US$300 miliar di 2026. Jumlah wisatawan muslim dunia di tahun 2020 juga diperkirakan mencapai 158 juta orang.

Ketua Lembaga Pemilihan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hayu Prabowo mengungkapkan terdapat kriteria wisatawan muslim yang wajib disediakan pelaku usaha dalam mendukung pariwisata halal yakni makanan produk halal yang tentu harus bersertifikat, fasilitas sholat, pengelola tempat wisata dan penginapan harus memisahkan antara pria dan wanita.

"Tentu hotel dan restoran perlu ada standar dan bersertifikat halal agar menjamin wisatawan muslim," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
WISATA HALAL

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top