Bank Indonesia Yakin Arus Modal Bisa Perbaiki Defisit Neraca Pembayaran 2018

Bank Indonesia meyakini kebijakan yang telah digulirkan untuk menjaga daya tarik investasi dalam aset keuangan domestik bisa menarik aliran modal ke pasar dalam negeri, sekaligus memperbaiki defisit neraca pembayaran 2018 yang tembus hingga US$7,13 miliar.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 09 Februari 2019  |  04:59 WIB
Bank Indonesia Yakin Arus Modal Bisa Perbaiki Defisit Neraca Pembayaran 2018
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo memberikan paparan dalam pembukaan CORE Economic Outlook 2019 bertajuk Memperkuat Ekonomi di tengah Tekanan Global, di Jakarta, Rabu (21/11/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia meyakini kebijakan yang telah digulirkan untuk menjaga daya tarik investasi dalam aset keuangan domestik bisa menarik aliran modal ke pasar dalam negeri, sekaligus memperbaiki defisit neraca pembayaran 2018 yang tembus hingga US$7,13 miliar. 

Deputi Gubernur Dody Budi Waluyo menuturkan defisit neraca pembayaran Indonesia (NPI) 2018 disebabkan oleh tekanan di pasar keuangan yang membuat arus modal asing yang masuk ke dalam negeri menurun pada kuartal I-III. Hal ini dipicu oleh kondisi eksternal yang kurang mendukung. 

"Namun, kebijakan untuk menjaga daya tarik investasi dapat kembali menarik investasi tersebut masuk kembali ke domestik," ujar Dody, Jumat (8/2).

Buktinya, transaksi modal dan finansial sepanjang kuartal IV/2018 kembali meningkat. Sejalan dengan itu, pergerakan nilai tukar terus menguat sejak Oktober 2018. Dia menegaskan BI dan pemerintah tidak akan tinggal diam. 

Keduanya, kata Dody, terus akan memperkuat koordinasi untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan menuju kisaran 2,5% pada akhir 2019. "Indikator makro masih cukup kuat. Defisit transaksi berjalan memang tidak segera turun, namun pemerintah dan BI masih terus fokus pada langkah pengendalian defisit transaksi berjalan tersebut," tegas Dody. 

BI bersama pemerintah juga akan mendorong keberlanjutan reformasi struktural untuk memperbaiki daya saing dan meningkatkan nilai tambah ekspor barang dan jasa. "Hal ini diharapkan dapat menjadi faktor penarik aliran dana masuk baik dalam bentuk direct investment maupun portofolio investment," ungkap Dody. 

Direktur Riset CORE Indonesia Piter R. Abdullah mengungkapkan defisit di transaksi berjalan dan neraca pembayaran ini tidak akan mempengaruhi pasar secara signifikan. Pasalnya, pelebaran defisit dari sisi transaksi berjalan sudah diperhitungkan oleh investor sejak akhir tahun lalu. 

Khususnya pada Januari saat rilis neraca perdagangan, dia melihat saat itu besarnya defisit transaksi berjalan sudah bisa diprediksi pasar. 

"Saya kira ini tidak akan berdampak ke rupiah," tegas Piter. Jika rupiah melemah, dia menuturkan hal tersebut bukan digerakkan oleh sentimen atas pelebaran defisit transaksi berjalan. 

Ke depannya, dia memperkirakan defisit transaksi berjalan akan tetap melebar karena kondisi global akan menyulitkan pemerintah untuk mengembalikan neraca perdagangan ke kondisi normal. 

Namun, dia melihat kesempatan perbaikan neraca pembayaran pada 2019 terbuka. Selama global masih dipenuhi ketidakpastian oleh perang dagang, krisis Venezuela, dan Brexit yang menyebabkan perlambatan ekonomi global, maka investor masih akan memilih untuk menempatkan dananya di pasar berkembang. 

"Khususnya Indonesia yang relatif menjanjikan return yang lebih tinggi. Artinya neraca modal akan cukup aman," kata Piter.

Senada, Ekonom PT Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro menuturkan pelebaran defisit transaksi berjalan direspon sepi oleh pasar hari ini, Jumat (8/2).

Rupiah ditutup menguat 9 basis poin menjadi Rp13.965 per dolar AS. Satria menduga kondisi ini ditopang oleh intervensi BI. 

"BI mungkin telah melakukan intervensi untuk menjangkar nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir, melihat pilihan BI untuk membawa nilai tukar menguat," kata Satria. 

Bahana melihat penguatan nilai tukar sepanjang Februari 2019 bukan didorong oleh faktor fundamental karena penguatan ini terjadi di tengah penguatan dolar indeks (USD Index) yang melemah terhadap mata uang di hampir seluruh pasar berkembang dan negara G10. 

Di sisi lain, Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai defisit transaksi berjalan dan neraca pembayaran ini akan mempengaruhi strategi investor global di pasar saham, maupun surat utang Indonesia. Pelebaran defisit transaksi berjalan sebenarnya mengindikasikan bahwa secara fundamental kebutuhan valas meningkat. 

"Jangka pendek stabilitas kurs masih bisa ditutup dengan penerbitan utang. Tapi ketika terjadi koreksi, maka rupiah berisiko tertekan," papar Bhima. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top