KKP Siapkan Kajian Asal Muasal Sampah Plastik di Laut Indonesia

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (BRSDM KKP) berencana mengadakan riset terkait tingginya produksi sampah dari daratan Indonesia, khususnya plastik yang terbuang ke laut setiap tahunnya.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 06 Februari 2019  |  18:10 WIB
KKP Siapkan Kajian Asal Muasal Sampah Plastik di Laut Indonesia
Aktivitas audit sampah plastik Greenpeace Indonesia di Sanur, Bali. - Dok. Greenpeace Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA—Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (BRSDM KKP) berencana mengadakan riset terkait tingginya produksi sampah dari daratan Indonesia, khususnya plastik yang terbuang ke laut setiap tahunnya.

Seperti diketahui, dalam hasil riset yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas  Georgia Dr. Jenna Jambeck, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi setelah China sebagai penyumbang sampah plastik terbanyak ke lautan.

“Kita mau bentuk tim untuk challenge berita ini. Perlu ada penelitian yang jelas, kajian yang sungguh-sungguh,” kata Sekretaris BRSDM KKP Maman Hermawan , Rabu (6/2).

Niatan untuk membuktikan hasil riset ini kata Maman lantaran daratan dan laut Indonesia berdekatan dan berbatasan langsung dengan wilayah perairan sejumlah negara lain seperti Filipina, Malaysia, Singapura yang juga memproduksi dan menggunakan plastik.

Terlepas dari berapa banyak jumlah yang dihasilkan, dia menyebutkan bahwa sampah plastik memang menjadi salah satu bahan yang berpotensi mengganggu ekosistem laut jika tidak ditangani dengan benar.

Salah satu masalah yang kerap ditemukan terkait keberadaan sampah plastik di laut adalah terganggunya kehidupan hewan di laut seperti ditemukannya banyak plastik pada perut ikan baru-baru ini.

Selain itu, keberadaan sampah plastik juga merusak pemandangan indah yang ada di laut. Lebih lanjut lagi, sampah plastik menjadi berbahaya jika terurai dan berubah menjadi mikro plastik atau nano plastik di lautan yang berpotensi dikonsumsi oleh ikan.

“Kalau dia [plastik] hancur masuk ke dalam struktur daging ikan terus kita makan, itu bahaya,” katanya.

Padahal, di sisi lain Maman mengatakan bahwa berdasarkan temuan ilmiah, laut berperan memperlambat perubahan iklim karena ekosistemnya seperti hutan bakau, hutan kelp, dan padang lamun yang dikenal memiliki kemampuan menyerap karbon di atmosfir.

Untuk itu, peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya sampah plastik yang tidak ditangani dengan benar menjadi hal penting. Untuk mengurangi risiko bahaya sampah pastik, upaya bersama perlu dilakukan mulai dari masyarakat atau rumah tangga.

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mencatat rata-rata sampah yang dihasilkan masyarakat ibukota per tahunnya mencapai 2,5 juta ton di mana 357.000 ton diantaranya merupakan sampah plastik.

Khusus kantong plastik, warga ibukota menyumbang 1.900 sampai 2.400 ton per tahun atau setara dengan 230 juta—300 juta lembar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sampah, plastik

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top