Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha Ritel Modern Bidik Pertumbuhan Penjualan 10% saat Imlek

Para pelaku industri ritel modern tengah beradu strategi untuk menjaring pertumbuhan penjualan sebesar 10% saat momentum Imlek 2019.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 29 Januari 2019  |  15:56 WIB
Atraksi barongsai menandai dimulainya rangkaian program menyambut perayaan Tahun Baru Imlek di Senayan City, salah satunya pencatatan rekor MURI untuk sajian kue keranjang terbanyak. - Bisnis.com/Siti Munawaroh
Atraksi barongsai menandai dimulainya rangkaian program menyambut perayaan Tahun Baru Imlek di Senayan City, salah satunya pencatatan rekor MURI untuk sajian kue keranjang terbanyak. - Bisnis.com/Siti Munawaroh

Bisnis.com, JAKARTA — Para pelaku industri ritel modern tengah beradu strategi untuk menjaring pertumbuhan penjualan sebesar 10% saat momentum Imlek 2019.

Ketua Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menjelaskan, peritel modern masih optimistis dapat meraup pertumbuhan penjualan yang jauh lebih baik saat sincia [Tahun Baru China] tahun ini dibandingkan dengan periode Imlek tahun lalu.

“Optimisme tersebut disebabkan adanya gejala perbaikan penjualan ritel sejak Lebaran tahun lalu hingga saat momentum akhir tahun, hingga saat ini. Tahun kemarin, untuk Imlek, pertumbuhannya sangat rendah yaitu hanya 5%,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Senin (28/1/2019).

Dia mengestimasikan, perayaan Imlek mampu berkontribusi sebesar 10% terhadap total penjualan ritel modern sepanjang tahun ini. Adapun, kontribusi dari momentum Idulfitri serta Natal dan Tahun Baru masing-masing ditaksir sebesar 40% dan 20%.

Menurutnya, saat ini para peritel modern tengah berlomba-lomba memperkuat penjualan secara luring. Persiapan itu terlihat sejak pekan lalu dengan cara mempercantik interior gerai dan menggelontor program diskon sebesar 20%—30% guna menjala konsumen.

“Kami promosi di media sosial, media digital, maupun koran terkait dengan program promo selama Imlek. Kami juga bekerja sama dengan pusat perbelanjaan untuk menggelar program midnight sale. Tahun ini, kami juga menggandeng pelaku dagang-el untuk menjual produk,” tutur Budihardjo.

Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta berpendapat, peningkatan penjualan ritel modern saat perayaan Imlek lebih ditopang oleh kota-kota yang paling banyak dihuni etnis Tionghoa.

“Pontianak, Bangka, Medan, dan Palembang adalah kota-kota yang paling meningkat penjualannya saat Imlek,” ucapnya.

Menurutnya, capaian penjualan tertinggi saat Tahun Baru China 2019 akan dibukukan oleh para peritel segmen pakaian, makanan dan minuman (food and beverage), kosmetik, dan aksesori; khususnya yang berkaitan dengan tema Imlek.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan meyakini, momentum Imlek 2019 bisa mendongkrak angka kunjungan ke mal sebesar 10%—15% dibandingkan dengan hari-hari biasa.

“Momentum Imlek ini memang bisa menaikkan kunjungan antara 10% hingga 15%, karena berbagai macam program menarik, seperti diskon dan barongsai. Namun, kenaikan pengunjung mal saat Imlek memang tidak setinggi dibandingkan dengan saat Lebaran serta Natal dan Tahun Baru.”

Dari kaca mata pelaku usaha, Director Investor Relations & Corporate Communication PT Mitra Adiperkasa (MAPI) Fetty Kwartati menjabarkan, korporasinya mematok kenaikan penjualan sebesar 15% sepanjang tahun ini.

“Kontribusi penjualan terbesar sebenarnya adalah saat akhir tahun, bukan Imlek,” ungkapnya.

Meski demikian, perusahaan tetap menyediakan program promo saat Imlek seperti diskon dalam bentuk angpao dan voucer belanja, serta cash back khususnya bagi pemegang kartu keanggotaan (membership) grup MAPI.

Secara terpisah, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira berpendapat, penjualan ritel modern saat Imlek 2019 bisa menjadi titik tolak pemulihan penjualan ritel modern pada tahun ini.

“Memang pemulihannya butuh akselerasi karena banyak peritel yang tengah menyesuaikan diri, seperti [melalui] efisiensi dan pindah lokasi yang strategis. Mendorong omnichannel dan promosi bisa dilakukan sebagai strategi untuk bertahan. Ini butuh waktu,” tuturnya.

Bagaimanapun, Bhima menyakini kondisi industri ritel modern akan berangsur-angsur membaik dan konsumsi masyarakat akan tinggi.

Pasalnya, pada tahun politik, belanja pemerintah sangat besar sehingga mampu mendorong konsumen untuk berbelanja. “Ini bisa jadi stimulus konsumsi masyarakat kelas bawah,” ucapnya.

PENJUALAN DARING

Pada perkembangan lain, momentum Imlek turut menjadi berkah bagi para pelaku industri perdagangan elektronik (dagang-el).

Hanya saja, kenaikan penjualan ritel daring saat Tahun Baru China 2019 dibandingkan dengan hari-hari biasa diprediksi akan sama seperti tahun lalu, yaitu sekitar 60%.

“Jika melihat tren belanja masyarakat Indonesia yang semakin membaik setiap tahunnya, tahun ini kami pun memprediksi peningkatan [penjualan saat Imlek] 60% dari rata-rata nilai transaksi harian bisa tercapai,” kata Country Head of Shopback Indonesia Indra Yonathan.

Berkaca pada hasil survei Shopback terhadap perilaku konsumen selama periode Imlek tahun lalu, intensitas belanja ritel secara daring akan makin meningkat H-7 sebelum Hari H pada 5 Februari 2019.

Chief Marketing Officer Lazada Indonesia Monika Rudijono mengungkapkan, perusahaan sudah mulai melakukan program penjualan untuk perayaan Imlek 2019 sepanjang 22—24 Januari 2019.

Dari program tersebut, transaksi konsumen tercatat melesat 100% dari rerata penjualan harian.

“Program Imlek kami sudah selesai. Kampanye Lazada Lucky Imlek dapat mendongkrak penjualan hingga dua kali lipat dari hari biasa. Bahkan, tak sedikit pula penjual yang merasakan kenaikan hingga beberapa kali lipat,” jelasnya.

Meski tidak secara langsung memberikan potongan harga, lanjutnya, Lazada Indonesia menerapkan promo harga istimewa terhadap produk-produk berwarna merah, yakni pada kisaran Rp88.000—Rp888.000 per item.

Lebih lanjut, Monika mengatakan Lazada Indonesia tidak mengalami banyak kendala dalam peningkatan penjualan pada perayaan Imlek tahun ini.

Hanya saja, sebutnya, perusahaan tengah sibuk mempercepat pengiriman barang, yang 20%-nya ditujukan untuk pelanggan di luar Jawa.

Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (IdEA) Ignatius Untung berpendapat, peningkatan belanja daring pada momentum Imlek tahun ini akan tetap terjadi meskipun antusiasme konsumen saat Tahun Baru China tidak sebesar saat Idulfitri, Natal, dan Tahun Baru.

Dia pun berharap pelaku dagang-el tidak terlalu jor-joran dalam memberi potongan harga guna menjaga kesehatan keuangan perusahaan.

“Kalau diberi gratis ongkos kirim itu dampaknya ke marketplace, sedangkan gratis diskon itu dampaknya ke pelaku dagang-el. Mereka harus garap pelanggan setia, supaya bisnisnya lebih berkelanjutan,” ucapnya.

Pada perkembangan lain, Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengaku masih belum melihat adanya peningkatan pengiriman barang dari luar negeri.

“Mayoritas perdagangan elektronik kita didominasi oleh barang impor. Biasanya ada peningkatan volume impornya sekitar 5% [sebelum perayaan Imlek]. Namun, beberapa hari ini belum ada peningkatan impor barang tersebut,” katanya.

Meski demikian, Yukki memprediksikan pelaku dagang-el tidak akan menghadapi banyak kendala dalam mencapai target-target penjualan pada perayaan Imlek tahun ini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel modern
Editor : Wike Dita Herlinda

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top