Impor Gandum Bakal Naik di Tengah Harga yang Kian Mahal

Impor gandum pada tahun ini diperkirakan makin melonjak, berbanding lurus dengan tingginya permintaan tepung terigu di dalam negeri. Padahal, harga gandum dunia tengah melambung.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  16:32 WIB
Impor Gandum Bakal Naik di Tengah Harga yang Kian Mahal
Ladang gandum -

Bisnis.com, JAKARTA — Impor gandum pada tahun ini diperkirakan makin melonjak, berbanding lurus dengan tingginya permintaan tepung terigu di dalam negeri. Padahal, harga gandum dunia tengah melambung.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang mengatakan, pada tahun ini kebutuhan impor gandum diperkirakan tumbuh 5% dari realisasi impor pada tahun lalu sebanyak 10,09 juta ton.

“Untuk saat ini, proyeksi persisnya saya belum bisa pastikan karena ada kendala dari harga gandum global yang tinggi. Namun, kalau melihat tren dan kondisi di dalam negeri, perkiraan impor gandum tahun ini tumbuh sekitar 5%. Sebab, permintaan tepung terigu nasional kami perkirakan juga tumbuh sekitar 5%—6%” jelasnya kepada Bisnis.com, Rabu (23/1/2019).

Dia melanjutkan, meningkatnya konsumsi masyarakat dan adanya momentum pemilihan umum legislatif dan presiden bakal menjadi pendongkrak kebutuhan tepung terigu, terutama untuk bahan baku makanan.

Franciscus menambahkan, selama ini 90% impor gandum masih diserap oleh industri tepung terigu. Sementara itu, sisanya diserap oleh industri pakan hewan sebagai bahan baku campuran.

Namun demikian, dia belum dapat memberikan data realisasi serapan gandum impor untuk kebutuhan industri tepung terigu dan pakan hewan sepanjang tahun lalu lantaran masih menunggu laporan akhir dari para pelaku industri.

Adapun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor gandum dan biji meslin Indonesia dari Australia tercatat mencapai 2,41 juta ton, turun dari 2017 yang mencapai 5,10 juta ton. Negeri Kanguru merupakan negara penyuplai gandum terbanyak bagi pasar Indonesia.  Sementara itu, impor gandum dari Ukraina pada 2018 naik menjadi 2,41 juta ton dari 1,98 juta ton pada 2017.

Sementara itu, total impor gandum Indonesia pada tahun lalu mencapai 10,09 juta ton, turun dari realisasi 2017 sebanyak 11,43 juta ton.

“Penurunan impor tahun lalu salah satunya disebabkan oleh seretnya pasokan dari Australia. Namun, dengan perkiraan kondisi dan permintaan dalam negeri pada tahun ini, kami tetap optimistis impor gandum akan kembali naik,” ujarnya.

Hanya saja, imbuhnya, salah satu kendala yang akan dihadapi Indonesia dalam melakukan impor gandum pada tahun ini adalah tingginya harga gandum global.

Berdasarkan data Chicago Board of Trade (CBOT), harga gandum pada Rabu (23/1) berada pada level US$5,23/bushels. Harga tersebut terus merangkak naik sejak November yang sempat mencapai US$4,87/bushels.

Dia mengatakan, naiknya harga gandum tersebut a.l. disebabkan oleh Rusia dan Ukraina yang memutuskan untuk membatasi ekspor gandumnya.

Padahal, selama ini Ukraina dan Rusia menjadi negara yang disasar sebagai pemasok gandum untuk Indonesia selain Australia.

Selain itu, jelasnya, desakan kenaikan harga gandum global disebabkan oleh produksi gandum Australia yang mengalami penurunan sejak tahun lalu akibat gangguan cuaca.

Mengutip laporan resmi di laman Australian Bureau of Agricultural and Resource Economics and Sciences (ABARES), produksi gandum Australia pada musim 2018—2019 diperkirakan hanya akan mencapai 19,1 juta ton.

Gangguan saat masa tanam komoditas gandum di Australia sempat membuat para importir gandum Indonesia mengalihkan pemasoknya ke Kanada dan Amerika Serikat (AS).

Kondisi mahalnya harga gandum dunia tersebut dikhawatirkan berimbas pada kenaikan harga tepung terigu di Indonesia.

“Kenaikan harga gandum global yang diikuti oleh harga tepung terigu saya perkirakan masih akan terus terjadi sepanjang semester I/2019, atau setidaknya hingga panen raya Australia pada pertengahan tahun ini,” katanya.

Kendati demikian, dia meyakini permintaan domestik terhadap tepung terigu—baik dari industri makanan dan minuman maupun rumah tangga—akan terus mengalami kenaikan.

Pada tahun lalu, konsumsi gandum untuk tepung terigu nasional ditaksir mencapai 8,5 juta ton atau naik dari tahun lalu yang mencapai 8 juta ton.

Dihubungi secara terpisah, Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Rahcmat Hidayat mengatakan, pada tahun lalu harga tepung terigu telah mengalami kenaikan hingga 2%.

Hal itu menjadi salah satu pertimbangan sejumlah produsen makanan dan minuman (mamin) untuk menaikkan harga produknya hingga 5% pada awal tahun ini.

“Sejauh ini yang kami lihat kenaikan harga lebih banyak dilakukan oleh produsen kecil yang margin usahanya terbatas. Untuk industri besar, mereka memilih menahan kenaikan harga jualnya,” ujarnya.

Dia menyebutkan, selama ini sektor usaha kecil menengah (UKM) menguasai 66% permintaan tepung terigu nasional, sedangkan sisanya berasal dari industri besar. Sektor UKM tersebut mayoritas terdiri dari produsen rumahan.

Kendati demikian, sebutnya, tidak menutup kemungkinan pelaku usaha mamin akan melakukan penyesuaian terhadap harga produknya sepanjang tahun ini, apabila harga tepung terigu terus merangkak naik.

Pasalnya, tepung terigu merupakan salah satu bahan baku penting untuk produk makanan.

PAKAN TERNAK

Di sisi lain, Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman justru memperkirakan permintaan gandum untuk pakan hewan akan mengalami penurunan drastis pada tahun ini.

Hal itu didasarkan pada proyeksi Kementerian Pertanian, yang menyebutkan produksi jagung nasional akan mencapai 33 juta ton pada tahun ini.

“Apabila benar produksi jagung pada tahun ini mencapai 33 juta ton, maka kami perkirakan industri pakan ternak tidak lagi membutuhkan gandum untuk campuran pakan ternak. Sebab, selama ini, gandum lebih banyak kami gunakan untuk pengganti jagung saja ketika harga jagung melonjak tajam atau pasokannya terbatas,” jelasnya.

Selama beberapa tahun terakhir, menurutnya, konsumsi gandum untuk pakan ternak cenderung fluktuatif.

Menurutnya, gandum menjadi pilihan terakhir bagi para produsen pakan ternak untuk campuran pakan lantaran harganya yang lebih mahal dibandingkan dengan jagung.

Sekadar catatan, pada perkembangan lain, pemerintah juga menerbitkan izin impor jagung untuk pakan ternak sebanyak 30.000 ton melalui Perum Badan Urusan Logistik/Bulog (Persero) yang diagendakan masuk ke pasar domestik pada Februari 2019.

Izin impor jagung tersebut merupakan tambahan dari impor yang juga dilakukan oleh Bulog pada Desember 2018 sebayak 100.000 ton.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Singgih Januratmoko mengaku mendapatkan laporan bahwa impor jagung untuk pakan ternak yang telah masuk ke Indonesia mencapai 70.000 ton.

Namun, jumlah tersebut masih belum efektif untuk menekan harga jagung untuk pakan ternak yang mencapai Rp6.200/kg dan kelangkaan jagung di berbagai daerah sentra peternakan.

Ketua Dewan Jagung Nasional Tony J Kristianto berpendapat, pemerintah harus mewaspadai rembesan jagung impor untuk industri mamin sebanyak ke pasar jagung untuk pakan ternak. Pasalnya, saat ini jagung untuk pakan ternak mengalami kelangkaan dan harganya sedang berada di level tertingginya sepanjang sejarah.

“Meskipun spesifikasinya berbeda, tetapi jagung untuk mamin bisa digunakan untuk pakan ternak. Apalagi, harga jagung untuk makanan manusia harganya saat ini Rp3.000/kg, sedangkan untuk pakan ternak mencapai Rp6.200/kg,” jelasnya.

Untuk itu, dia meminta pemerintah memastikan alokasi impor jagung untuk mamin sebanyak 440.000 ton pada paruh pertama tahun ini benar-benar diserap oleh industri pengolahan mamin.

Pasalnya, apabila terjadi kebocoran ke pasar jagung untuk pakan ternak, pelaku industri akan meminta alokasi impor jagung untuk mamin dalam jumlah yang lebih besar pada paruh kedua tahun ini.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman menjelaskan, izin impor jagung untuk mamin memang masih berpeluang ditambah kembali.

“Pemerintah sudah janjikan untuk cukupi kebutuhan industri jika alokasi yang disediakan saat ini tidak cukup. Kami melihat jumlah izin impor jagung tersebut belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan industri mamin yang kami perkirakan tumbuh 8%—9% tahun ini.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gandum

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top