Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor Barang Konsumer ke Afrika Barat Kian Menjanjikan

Indonesia dinilai perlu memaksimalkan peluang ekspor produk barang konsumer ke Afrika Barat, mengingat masih rendahnya pertumbuhan industri di kawasan tersebut.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 07 Januari 2019  |  16:50 WIB
Pulau Sal di Afrika Barat - News.com.au
Pulau Sal di Afrika Barat - News.com.au

Bisnis.com,. JAKARTA — Indonesia dinilai perlu memaksimalkan peluang ekspor produk barang konsumer ke Afrika Barat, mengingat masih rendahnya pertumbuhan industri di kawasan tersebut.

Ketua Komite Tetap Ekspor Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) Indonesia Handito Joewono mengatakan, produk barang konsumer asal Indonesia masih menjadi primadona di berbagai negara benua Afrika, terutama Afrika Barat.

Pasalnya, produk Indonesia—terutama makanan dan minuman— dianggap memiliki kedekatan kultural yang lebih erat dibandingkan dengan produk sejenis asal negara lain.

“Industri atau pabrik barang konsumer di Afrika Barat masih sedikit. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi mereka menjanjikan, jadi ada kesenjangan antara kebutuhan konsumen dan [pertumbuhan] industri mereka. Celah ini yang berusaha kita manfaatkan,” jelasnya kepada Bisnis.com, Minggu (6/1/2019).

Dia mengatakan, produk Indonesia juga dinilai memiliki kelebihan lain, lantaran memuat label halal yang diminati oleh konsumen muslim di kawasan tersebut. Namun, dia melihat cukup banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh pemerintah maupun eksportir RI untuk mengakses kawasan tersebut.

Menurutnya, pemerintah harus lebih aktif memberikan insentif kepada pengusaha untuk berinvestasi di Arika Barat. Sebab, dia melihat, persoalan terbesar yang dihadapi oleh para eksportir Indonesia adalah berupa jaringan logistik di regional tersebut.

“Ekspor ke Afrika selama ini lebih banyak didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar yang punya pendanaan yang kuat untuk ekspor, karena  biaya pengirimannya yang besar. Sebab, kita belum punya jalur logistik yang tetap menuju Afrika, sementara perusahaan kecil-kecil susah mengakses itu,” jelasnya.

Untuk itu, dia mendesak agar pemerintah mendorong investor lokal maupun asing untuk menanam modaldi sektor jalur logistik dari RI menuju Afrika. Selain itu, dia berharap para investor RI diberikan bantuan untuk membangun pergudangan atau pabrik di kawasan tersebut.

Sementara itu, Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Republik Indonesia (RI) Abuja Isman Pasha menjelaskan, penurunan kinerja ekspor nonmigas RI ke Afrika Barat sepanjang Januari—Oktober 2018 secara year on year (yoy) terjadi dengan Niger dan Burkina Faso.

Terhadap Niger, ekspor nonmigas Indonesia pada Januari—Oktober 2018 turun menjadi US$1,6 juta dari tahun sebelumnya senilai US$5,6 juta. Sementara itu, pada periode yang sama, ekspor menuju Burkina Faso turun menjadi US$9,64 juta dari US$12,4 juta  pada 2017.

“Kami melihat hal itu terjadi akibat kondisi negara tersebut yang tidak memiliki akses langsung ke laut sehingga membuat barang impor dari Indonesia harus masuk melalui negara ketiga, seperti Nigeria, Kongo, ataupun Uni Emirat Arab,” jelasnya, dikutip dari siaran pers, Minggu (6/1).

Kendati demikian, Pasha mengatakan, ekspor nonmigas menuju 11 negara di kawasan Afrika Barat sepanjang Januari—Oktober 2018 secara akumulatif tumbuh 10,7% menjadi US$861 juta secara yoy.  Adapun, negara di Afrika Barat terdiri dari Benin, Burkina Faso, Gabon, Ghana, Kamerun, Kongo, Liberia, Niger, Nigeria, Sao Tome and Principe, dan Togo.

Pasha mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan pasar Afrika Barat yang sedang tumbuh pesat, lantaran mendapat sentimen positif dari kenaikan harga minyak dunia sepanjang tahun lalu.

“Barang konsumer asal Indonesia masih menjadi yang terbaik dibandingkan dengan negara pesaing, karena kualitasnya yang dianggap terbaik. Di sisi lain, dengan jumlah penduduk Afrika Barat yang besar yakni mencapai 310 juta orang, produk harian menjadi komoditas yang paling dibutuhkan di kawasan ini,” lanjutnya.

Ekonom Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, Indonesia harus berhati-hati dengan negara pesaing seperti China. Pasalnya, negara tersebut juga sedang menyasar Afrika sebagai pasar ekspor barunya.

“Produk RI memang lebih unggul karena punya label halal, tetapi bukan tidak mungkin hal serupa dilakukan oleh China. Apalagi, jika China sudah membangun pabrik di kawasan itu, preferensi konsumen di sana pasti akan dapat diikuti dengan mudah,” ujarnya.

Adapun, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasioal Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengatakan, topik mengenai investasi menjadi salah satu yang diperjuangkan RI ketika menjalin kerja sama ekonomi maupun perdagangan dengan negara Afrika.

“Makanya saat kami berunding, kami mencoba masuk perlahan melalui investasi dari Indonesia. Maka dari itu kita terus bekerja sama dengan sektor usaha Indonesia untuk memetakan potensi apa saja yang bisa diisi di Afrika Barat melalui investasi sekaligus perdagangan,” katanya. 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor nonmigas
Editor : Wike Dita Herlinda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top