Perlu Perbaikan Akses Permodalan untuk Tingkatkan Rasio Kewirausahaan

Terbatasnya akses permodalan bagi pelaku Usaha Kecil dan Menengah menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan rasio kewirausahaan di Indonesia.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 18 Desember 2018  |  12:59 WIB
Perlu Perbaikan Akses Permodalan untuk Tingkatkan Rasio Kewirausahaan
Perajin memproduksi batik di Kampung Batik Kauman, Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (27/9/2018). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra

Bisnis.com, JAKARTA -- Terbatasnya akses permodalan bagi pelaku Usaha Kecil dan Menengah menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan rasio kewirausahaan di Indonesia.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan untuk meningkatkan rasio kewirausahaan, akses permodalan bagi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) harus terus diperbaiki. Saat ini, rasio kewirausahaan Indonesia baru berada di level 3,1%.

"Akses ini berbeda dengan murahnya bunga atau cicilan yang relatif lebih murah, tetapi akses ini kan [soal] kemudahan mendapatkan kredit," jelasnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (18/12/2018).

Saat ini, masih ada sekitar 65% masyarakat Indonesia yang masuk dalam kategori unbankable. Sementara itu, lanjut Bhima, skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagian besar disalurkan ke perbankan.

Sistem perbankan memang mengharuskan penyaluran kredit dilakukan dengan sangat hati-hati. Dengan demikian, banyak calon wirausahawan dan yang belum memiliki jaminan kesulitan mendapatkan pembiayaan.

Akibatnya, pelaku UKM yang tidak bisa mengakses KUR terkadang terjebak dengan meminjam ke rentenir atau permodalan dengan bunga yang tinggi.

Dia menilai ada baiknya jika bank bekerja sama dengan koperasi dan lembaga keuangan di level mikro untuk membantu UKM.

"Karena di lembaga keuangan mikro inilah para pengusaha pemula itu meminta modal untuk pertama kali sebelum kemudian ke bank, karena bank bagaimanapun juga mensyaratkan riwayat kredit yang bagus, mensyaratkan adanya jaminan dengan alasan kehati-hatian," papar Bhima.

Di sisi lain, penyaluran KUR saat ini dipandang sudah cukup bagus karena bunga yang ditetapkan rendah, yakni 7%. Meski, memang masih ada catatan bahwa sebagian besar KUR yang diberikan disalurkan untuk sektor perdagangan. 

"Ya perdagangan ini kan dianggap risikonya lebih rendah dan turn over-nya cepat, sedangkan penyaluran kredit di sektor pertanian, perikanan, dan industri kecil porsinya, masih kurang dan harus terus ditambah," terangnya.

Namun, wirausaha di bidang manufaktur seperti perikanan dan pertanian mesti digencarkan karena kualitasnya dipandang akan lebih tinggi dibandingkan wirausaha di sektor perdagangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wirausaha, permodalan

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top