Kolombia Gabung CPOPC, Apa Dampaknya ke Harga Minyak Sawit?

Meskipun tidak akan memberi dampak signifikan dalam mengatrol harga minyak sawit pada 2019, bergabungnya Kolombia ke Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) diyakini dapat memperkuat dukungan untuk melawan kampanye hitam terhadap komoditas tersebut.
M. Richard | 07 November 2018 16:22 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Meskipun tidak akan memberi dampak signifikan dalam mengatrol harga minyak sawit pada 2019, bergabungnya Kolombia ke Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) diyakini dapat memperkuat dukungan untuk melawan kampanye hitam terhadap komoditas tersebut.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud menjelaskan, kemampuan produksi sawit Kolombia hanya 1 juta ton per tahun, sehingga tidak terlalu memengaruhi harga crude palm oil (CPO) internasional.

Namun, bergabungnya negara beribu kota Bogotá itu ke CPOPC akan menambah kekuatan dewan negara produsen sawit untuk melawan kampanye hitam terhadap CPO.

“Sebelumnya [produsen sawit terbesar] hanya ada dua [RI dan Malaysia] dari Asia. Kalau Kolombia bergabung ke CPOPC, kita akan punya banyak suara untuk melawan kampanye hitam dari Eropa dan Amerika Serikat,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (6/11/2018).

Musdhalifah menjelaskan, setiap anggota CPOPC memiliki anggaran sendiri untuk mengampanyekan sawit. Misalnya, Malaysia menyediakan 23,4 juta ringgit pada tahun ini, naik sebelas kali lipat dari anggaran tahun lalu yang bernilai 2 juta ringgit.

Sementara itu, lanjutnya, Indonesia menyiapkan anggaran kampanye yang berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Selama semester I/2018, dana yang terkumpul sudah mencapai Rp6,4 triliun dari pungutan ekspor CPO dan produk turunannya.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang sepakat bahwa keanggotaan Kolombia di CPOPC hanya akan bermanfaat untuk memberi perlawanan kampanye hitam.

Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus  menambahkan, meski Kolombia merupakan negara produsen CPO terbesar ke-4 di dunia, keanggotaanya di CPOPC tidak akan memberi dampak pada perbaikan harga sawit global.

Dia justru berharap CPOPC dapat menggaet lebih banyak lagi anggota baru, seperti Thailand dan Nigeria.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga cpo

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top