Rumah Kontainer Dual Power: Jawaban Bagi Daerah Terpencil

Tropical Renewable Energy Center Fakultas Teknik Universitas Indonesia (TREC FT UI) meresmikan rumah berbentuk kontainer pertama di Indonesia dengan sistem listrik dual power bernama Sofwan House TREC FTUI pada Kamis (25/10/2018).
Maria Elena | 25 Oktober 2018 18:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Tropical Renewable Energy Center Fakultas Teknik Universitas Indonesia (TREC FT UI) meresmikan rumah berbentuk kontainer pertama di Indonesia dengan sistem listrik dual power bernama Sofwan House TREC FTUI pada Kamis (25/10/2018).

Donatur Utama Sofwan House sekaligus Direktur PT Radiant Utama Interinsco, Sofwan Alfarisi, mengatakan bahwa ide rumah dengan sistem listrik dual power berangkat dari banyaknya kebutuhan rumah yang tidak mendapat aliran listrik di daerah-daerah terpencil.

"Kita tahu di daerah-daerah banyak yang butuh, ke depannya harus ada rumah-rumah yang bisa diletakkan terutama di pulau-pulau terujung yang tidak  tergantung dari solar, tetapi dari matahari dan angin, dari alam, jadi tidak ada yang terisolasi.," kata Sofwan saat acara peresmian Sofwan House TREC FTUI pada Kamis (25/10/2018).

Dia mengatakan rumah yang terbuat dari kontainer bersifat fleksibel, bisa ditambah ataupun dikurangi. Selain itu rumah kontainer juga mudah dipindahkan dari satu tempat ke tampat lainnya.

Namun, kata Sofwan, karena Sofwan House  menggunakan sistem dual power yang menekankan ke arah baru untuk mengefisiensi listrik, jadi konsepnya tidak untuk di daerah, tetapi selanjutnya akan dikembangkan dari tenaga angin dan matahari.

Dia menjelaskan Sofwan House menggunakan hidrogen yang dicampur dengan udara sehingga menjadi listrik. Kelebihan hidrogen sendiri adalah ramah lingkungan, tidak mengandung karbon, dan bersifat renewable, tidak ada sisa pembakaran.

Selain itu, biaya yang harus dikeluarkan untuk satu rumah kontainer dual power adalah Rp250 juta, sementara harga kontainernya saja Rp150 juta.

Dia mengatakan tantangan untuk daerah terpencil adalah biaya perawatan yang mahal karena selama satu atau dua tahun harus mendatangkan teknisi dan harga yang masih mahal.

"Tantangan untuk kami adalah harga yang murah dan mantainancenya kalau bisa selama mungkin. Ujungnya yang kita kejar adalah ekonomis, mudah dipakai dan murah, misalnya 50 juta sudah bisa menggunakan tenaga matahari dan angin," papar Sofwan.

Tag : proyek listrik
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top