Investor China Belum Berkomitmen Investasi di Sektor Mainan, Ini Sebabnya

Kondisi ekonomi dan politik Tanah Air mempengaruhi iklim investasi di sektor industri mainan.
Annisa Sulistyo Rini | 24 Oktober 2018 22:32 WIB
Ketua Umum Asosiasi Mainan Indonesia Lukas Sutjiadi (tengah) memberikan paparan didampingi oleh General Manager ChaoYu Expo Jason Chen (kanan) selaku penyelenggara pameran Indonesia International Toys & Kids Expo (IITE) 2018 dan Sekretaris Jendral Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia Johan Tandanu dalam konferensi pers IITE 2018 di Jakarta, Senin (23/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA--Kondisi ekonomi dan politik Tanah Air mempengaruhi iklim investasi di sektor industri mainan.

Sutjiadi Lukas, Ketua Asosiasi Mainan Indonesia (AMI), mengatakan setelah pergelaran pameran business to business industri mainan dan perlengkapan anak pada akhir Juli lalu, para investor dari China belum berkomitmen untuk mengembangkan bisnis mereka di Indonesia.

Walaupun demikian, minat investor China masih ada karena Pemerintah Kota Linyi, Shandong, sedang mencari tempat untuk pameran produk dari para pengusaha asal kota tersebut.

"Para investor masih melihat situasi dan kondisi politik di Indonesia. Masih wait and see, [nilai tukar] dolar AS juga sedang tinggi," ujarnya Rabu (24/10/2018).

Investor khawatir apabila mereka sudah menanamkan modal di Indonesia, tetapi ada hambatan-hambatan, seperti kebijakan baru yang mempengaruhi progress investasi. Menurut Lukas, kemungkinan mereka akan wait and see setidaknya sampai pemilihan presiden tahun depan.

Tidak hanya itu, investasi perusahaan yang sudah ada di dalam negeri juga turut terpengaruh oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Salah satu pabrik mainan, yaitu PT Sinar Harapan Plastik, sedang membangun pabrik di Kawasan Industri Kendal karena pabrik yang saat ini dimiliki, berlokasi di daerah Kapuk, Jakarta, yang terkena aturan zona larangan industri.

Selain itu, relokasi pabrik ke Kendal disebabkan harga tanah yang masih terjangkau serta upah tenaga kerja yang lebih rendah dibandingkan wilayah Jabodetabek dan Banten.

Perusahaan tersebut telah membeli lahan di Kawasan Industri Kendal seluas 2 hektare sejak akhir tahun lalu. "Saat ini pembangunan pabrik SHP sedang terhenti mengingat dolar naik dan mempengaruhi nilai investasi," ujar Lukas.

Bagi operasional pabrik mainan dalam negeri, sebenarnya tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak berdampak besar. Lukas mengatakan kontribusi komponen bahan baku yang diimpor tidak banyak dalam membentuk harga.

"Paling yang biji plastik yang transaksinya pakai dolar, tetapi hitungannya tidak terlalu besar. Apalagi kalau kami memproduksi mainan dalam jumlah besar," katanya.

Tag : industri mainan
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top