WEF Tetapkan Daya Saing Indonesia di Posisi Ke-45, Baik atau Buruk?

Indonesia berada pada ranking ke-45 dalam indeks daya saing global (The Global Competitiveness Report) 2018 yang diterbitkan World Economic Forum.
Anggara Pernando | 18 Oktober 2018 17:39 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan mobil Mitsubishi Xpander di pabrik Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI) Cikarang, Jawa Barat, Selasa (3/10). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Indonesia berada pada ranking ke-45 dalam indeks daya saing global (The Global Competitiveness Report) 2018 yang diterbitkan World Economic Forum.

Dalam laporan ini disebutkan daya saing Indonesia pada 2018 ini secara keseluruhan meningkat 2 level dari posisi 47 tahun sebelumnya.

Dalam laporannya, WEF menyebutkan mereka melakukan perubahan indikator daya saing dalam survei tahunannya ini. Pasalnya dalam laporan daya saing global 2017 Indonesia berada pada peringkat 36. Sedangkan pada 2016 di peringkat 41.

Dalam laporan yang dikutip Kamis, (18/10/2018) ini daya saing Indonesia menempati peringkat ke-4 di kawasan Asia Tenggara. Peringkat pertama dipegang oleh Singapura (peringkat 2 di dunia), Malaysia (25), dan Thailand (38).

Disebutkan, daya saing utama yang menonjol dari Indonesia adalah padatnya junlah penduduk di negeri ini. Dalam indikator ukuran pasar, WEF menempatkan Indonesia pada peringkat kedelapan.

Penetrasi telepin selular dan keinginan untuk terhubung dengan dunia melalui internet juga menjadi keunggulan Indonesia. Meski berada diperingkat ke-50 dalam indikator ini, WEF menilai capain ini lebih baik dibandingkan dengan negara lebih kaya namun skala ekonominya lebih kecil.

"Namun, kemampuan inovasi masih terbatas (peringkat 68). Khususnya, [dalam indikator] penelitian dan pengembangan. Pengeluaran R & D Indonesia kurang dari 0,1% dari PDB (peringkat 112)," jelas laporan.

WEF sendiri menyebutkan jumlah responden yang disurvei mencapai 140 negara. Pada tahun ini dilakukan perubahan sejumlah indikator seiring bergaungnya revolusi industri 4.0 di seluruh dunia.

Klaus Schwab, Pendiri sekaligus Ketua Dewan Eksekutif WEF menyebutkan revolusi industri 4.0 merupakan fase baru yang harus dihadapi. Revolusi ini telah membawa perubahan dan kesempatan bagi bisnis, pemerintah dan individu.

Tag : manufaktur
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top