Harga BBM: 12 Menit di Hotel Sofitel dan Maju Mundur Premium

Menteri ESDM Ignasius Jonan baru saja menyelesaikan paparannya di acara Tri Hita Karana, Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018) di atas pukul 17.00 WITA.
David E. Issetiabudi, Hadijah Alaydrus & M. Nurhadi Pratomo | 13 Oktober 2018 13:53 WIB
Pengendara melintas usai mengisi BBM di salah satu SPBU, di Jakarta, Rabu (5/9/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri ESDM Ignasius Jonan baru saja menyelesaikan paparannya di acara Tri Hita Karana, Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018) di atas pukul 17.00 WITA.

Acaranya molor padahal dia harus mengejar pesawat pada pukul 17.45 WITA menuju Jakarta karena kehabisan kamar hotel.

Pada saat yang sama, kehadiran Jonan telah dinantikan para wartawan di depan Ballroom Sofitel. Semula, beredar pesan di grup WhatsApp wartawan peliput Annual Meeting IMF-World Bank 2018 bahwa dia akan mengadakan konferensi pers pukul 16.30 WITA. 

Staf Khusus Menteri ESDM Hadi M. Djuraid mengakui adanya konferensi pers itu.

Kasak-kusuk langsung beredar dengan cepat bahwa materi konferensi pers terkait dengan kenaikan harga Pertamax Series (Pertamax Turbo/Pertamax Plus) dan Dex Series (Pertadex dan Pertadex Light), serta bio solar non Public Service Obligation (PSO).

Jonan muncul tak lama kemudian dengan agak tergesa-gesa.

Enggak ada tanya jawab ya. One way. Soalnya saya nguber pesawat,” katanya.

Konferensi pers (konpers) pun langsung dimulai, tetapi diatur dalam bentuk doorstop di depan Ballroom Sofitel.

Awalnya, Jonan menjelaskan perihal keputusan Pertamina menaikkan harga Pertamax Series (Pertamax Turbo/Pertamax Plus) dan Dex Series (Pertadex dan Pertadex Light), serta bio solar non PSO, termasuk alasan keputusan tersebut. Paparan berlanjut terkait keputusan pemerintah menaikkan harga BBM jenis Premium.

Dia tak didampingi Direktur Utama (Dirut) Pertamina Nicke Widyawati, yang seharusnya menemani Jonan dalam konpers tersebut. 

Sesi tanya jawab tak terhindarkan mengingat ini kabar yang sangat sensitif di tengah kondisi sekarang. Salah satu yang jadi cecaran para wartawan adalah soal kesiapan Pertamina, dikaitkan dengan ketidakhadiran Nicke.

“Saya seharian ngobrol dengan Ibu Dirut Pertamina. Beliau tidak ada keluhan," ucap Jonan.

Saat Menteri ESDM mengumumkan kenaikan harga Premium, Menteri BUMN Rini M. Soemarno sedang melakukan kunjungan kerja di Palu. Adapun Presiden Joko Widodo berada di Jakarta, di mana salah satu agendanya hari itu adalah menonton pertandingan Asian Para Games 2018.

Jonan mengungkapkan kenaikan harga Pertamina sudah sesuai dengan arahan Presiden. Total waktu doorstop hanya 12 menit karena disudahi Jonan yang terburu-buru ke bandara.

Mobil berplat nomor RI 37 itu akhirnya meninggalkan Sofitel, tepat pukul 17.46 WITA.

Sepeninggal Jonan, Bisnis masih "mengejarnya" dengan pertanyaan lewat WhatsApp, antara lain mengapa baru sekarang harga Premium dinaikkan dan alasan yang mendasarinya.

“Penyesuaian Premium tidak akan dilakukan bila Pertamina tidak siap implementasi. Jadi, usulan penyesuaian harga Premium belum tentu dilakukan dalam waktu dekat,” jawabnya.

Dicecar lagi dengan pertanyaan, apakah ini berarti Pertamina siap? Jawaban Jonan muncul kurang lebih 10 menit kemudian.

Not ready,” ucapnya.

Berselang 30 menit setelah Jonan meninggalkan Sofitel, pesan WhatsApp dari Hadi M. Djuraid kembali masuk.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, rencana kenaikan harga premium di Jamali menjadi Rp7.000 dan di luar Jamali menjadi Rp6.900, secepatnya pukul 18.00 hari ini, agar ditunda dan dibahas ulang sambil menunggu kesiapan PT Pertamina," demikian isi pesannya.

Di kantor Kementerian ESDM Jakarta, Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto yang dicecar wartawan soal pembatalan kenaikan harga Premium menolak berkomentar, sembari berjalan cepat menuju Gedung Heritage Kementerian ESDM.

Suasana lain juga terasa. Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar yang biasanya terlihat salat magrib di musala Jami Al- Muhajirin Kementerian ESDM, tidak terlihat hari itu.

Banyak kasak-kusuk yang beredar di lapangan. Berdasarkan sejumlah sumber Bisnis, rencana kenaikan Premium sebetulnya sudah dibicarakan sebelum Wakil Presiden Jusuf Kalla pergi ke New York, AS dan direncanakan akan dieksekusi JK setelah kembali ke Jakarta.

Saat menghadiri acara Grand Launching CNBC Indonesia di Nusa Dua, Bali, JK sempat mengatakan bahwa dalam 1-2 hari ke depan akan ada kebijakan untuk merespons pelemahan rupiah.

Pada Rabu (10/10), Jonan sebetulnya sudah mengagendakan makan siang dengan Nicke di The Trans Resort. Dalam pertemuan inilah, rencana kenaikan difinalisasi. Kabarnya, setelah makan siang, keduanya bertemu JK di Nusa Dua.

Cerita lain beredar. Sejak awal, Menteri Rini keberatan dengan rencana kenaikan harga Premium dengan alasan pertimbangan bisnis. Pertamina saat ini juga cukup babak belur.

Saat konpers digelar di Sofitel, sebetulnya Rini masih kekeh. Tak heran, Nicke pun tak muncul di Ballroom Sofitel kala Jonan menggelar konpers.

Kepada para wartawan di Nusa Dua, Rini mengaku keputusan menaikan harga Premium belum dikomunikasikan kepada dirinya. Padahal, pada pagi harinya [Rabu], Pertamina baru saja mengumumkan kenaikan harga Perta Series.

Dari awal, kata Rini, yang didorong adalah kenaikan harga Pertamax, bukan Premium.

Nicke yang ditemui di sela-sela Annual Meeting IMF-WBG di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10), mengatakan penetapan harga BBM Premium bukan permasalahan siap atau tidak siapnya perseroan. Akan tetapi, keputusan itu ditetapkan oleh menteri yang dilakukan dengan berkoordinasi bersama tiga menteri terkait.

Untuk penetapan harga Premium, dia menuturkan terdapat beberapa variabel yang menjadi pertimbangan. Salah satunya kemampuan daya beli masyarakat.

Sebagai korporasi, sambung Nicke, Pertamina juga melakukan survei bagaimana kemampuan daya beli pelanggan. Saat ini, porsi pasar Premium sekitar 31%, Pertalite 51%, sedangkan 18% diisi Pertamax dan Pertamax Turbo.

Premium lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah ke atas, yaitu mencapai 94%, dan sisanya dinikmati konsumen kategori berpenghasilan rendah atau tidak mampu. Nicke berharap konsumen kelas menengah dan atas yang selama ini masih membeli Premium berpindah ke Pertalite atau seri Pertamax.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang ditemui sebelumnya enggan berkomentar banyak ketika ditanya mengenai pembatalan kenaikan harga Premium.

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika juga enggan memberikan tambahan komentar terkait dengan sikap Istana.

Entah apa yang sebenarnya terjadi. Yang tahu hanya Jokowi, Darmin, Rini, Jonan, juga Nicke.

Tag : Harga BBM, ignasius jonan
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top