Tunas Inti Rem Produksi Batu Bara Tahun Depan

PT Tunas Inti Abadi, anak usaha PT Reswara Minergi Hartama, menargetkan produksi batu bara pada tahun depan 4,4 juta ton dengan rasio pengupasan (stripping ratio) 7,37.
Denis Riantiza Meilanova | 26 September 2018 22:11 WIB
ABM Investama - abm/investama.com

Bisnis.com, TANAH BUMBU, Kalsel — PT Tunas Inti Abadi, anak usaha PT Reswara Minergi Hartama, menargetkan produksi batu bara pada tahun depan 4,4 juta ton dengan rasio pengupasan (stripping ratio) 7,37.

Target produksi batu bara pada 2019 tersebut lebih rendah dibandingkan dengan target tahun ini 4,9 juta ton.

Direktur Tunas Inti Abadi Dadik Kiswanto mengatakan bahwa penurunan rencana produksi batu bara pada 2019 tersebut disebabkan cadangan batu bara hampir habis.  Saat ini, cadangan batu bara pada tambang Tunas Inti hanya tersisa 18 juta ton. 

Dengan rata-rata produksi per tahun mencapai 5,5 juta ton, cadangan perusahaan akan habis pada 2021.

"Cadangan hampir habis secara gradual akan turunkan produksi karena lokasi makin sempit sehingga tidak memungkinkan alat beroperasi di sana," ujarnya, Rabu (26/9).

Total cadangan awal tambang cucu usaha PT ABM Investama Tbk. tersebut diperkirakan mencapai 106 juta ton.  Namun, dari total cadangan tersebut, hanya sebesar 52 juta ton yang ekonomis untuk dilakukan penambangan. 

Pihak Tunas Inti Abadi sempat berupaya melakukan eksplorasi baru untuk memperbesar cadangan batu bara. Namun, eksplorasi itu hanya mendapatkan tambahan cadangan batu bara sebanyak 1,7 juta ton. 

Direktur Keuangan ABM Adrian Erlangga, berkurangnya cadangan batu bara TIA, salah satunya juga disebabkan spesifikasi batu bara milik TIA paling banyak dicari di seluruh negara Asia. Spesifikasi batu bara jenis ini sesuai dengan ketentuan yang dibutuhkan pembangkit listrik.

"Makanya reserve [cadangan] kurang karena batu bara berapapun produksi pasti diserap pasar.  Kalau produksi 10 juta, 100% pasti diambil," kata Adrian.

Spesifikasi batu bara Tunas Inti Abadi memiliki kalori sebesar GAR 4.200 kcal/kg, total moistures 34%—37%, debu 5%—7%, dan sulpur 0,3%—0,5%.

Dengan cadangan batu bara tambang Tunas Inti Abadi yang semakin menipis ini, perusahaan akan mengarah kepada bisnis terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Perusahaan akan menyediakan jasa pengoperasian tambang kepada pemegang konsesi tambang lain, mulai dari penambangan batu bara, penyediaan infrastruktur, hingga sampai di ujung, yaitu kapal pengangkut berukuran besar (mother vessel).

"Kalau cadangan tinggal sedikit, teman-teman tambang sekitar sini tambang luas. Mereka akan kerja sama dengan kami, akan kami operasikan dan kelola," katanya.

Dia menambahkan, pihaknya masih mematangkan kolaborasi. “Ke depan kami akan banyak pengelola infrastruktur dan menambang.”

Adrian menuturkan bahwa penambangan Tunas Inti Abadi merupakan proyek percontohan penambangan batu bara dengan sistem terintegrasi.

Pengoperasian tambang dari awal hingga penjualan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di bawah naugan grup ABM Investama.

Sementara itu, target produksi batu bara ABM secara keseluruhan tahun ini sebesar 10 juta ton. Produksi tersebut akan dikontribusikan dari tambang ABM di Aceh yang dikelola oleh PT Mifa Bersaudara sebesar 5,5 juta ton, sisanya dari Tunas Inti sebesar 4,8 juta ton. 

Realisasi produksi tambang Tunas Inti hingga September 2018 telah mencapai lebih dari 3,5 juta ton. Pemegang izin usaha pertambangan ini mulai berproduksi pada 2011 dengan luas konsensi 3.085 hektare.

Tag : abm investama
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top