Pemerintah menunjuk daerah Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara sebagai sentra produksi kakao berbasis korporasi.

">
Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Sulawesi Tenggara Dijadikan Kawasan Kakao Berbasis Korporasi

Pemerintah menunjuk daerah Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara sebagai sentra produksi kakao berbasis korporasi.

Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 01 Agustus 2018  |  16:07 WIB
Sulawesi Tenggara Dijadikan Kawasan Kakao Berbasis Korporasi
/Bisnis
Bagikan
Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah menunjuk daerah Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara sebagai sentra produksi kakao berbasis korporasi.
Pemerintah akan menjadikan Kabupaten Kolaka Timur sebagai proyek pilot pengembangan kakao berbasis korporasi yang nantinya akan dikembangkann ke sentra-sentra produksi lainnya.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang mengatakan proyek pilot ini merupakan implementasi dari Permentan 18/2018 tentang Pedoman Pembangunan kawasan Pertanian Berbasis Korporasi untuk meningkatkan kesejahtraan petani.
Bambang mengungkapkan untuk bisa menyukseskan pembangunan pertanian berbasis korporasi di Kolaka Timur sangat diperlukan masukan yang lebih rinci untuk bahan perencanaan yang lebih baik. 
Faktor penentu lainnya adalah pentingnya sinergi antara petani,  pemerintah daerah, pusat dan universitas serta lembaga riset guna bersama-sama mendorong produksi kakao di daerah tersebut.. 
“Kelembagaan petani harus kuat dan terus berinovasi untuk meningkatkan keterampilan petani. Kelembangaan ini adalah kunci pembangunan pertanian yang berkelanjutan berbasis korporasi. Petani tidak hanya memproduksi, tapi juga mampu menciptakan produk akhir hingga memasarkan sendiri,” katanya, Rabu (1/8).
Sampai saat ini petani di Kolaka Timur sudah membentuk 22 Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera. Lembaga ini menjadi wadah petani untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat tani.
Pembentukan LEM sudah bagus, namun hal tersebut tidak cukup. Dalam pandangan Bambang, LEM-LEM itu harus bergabung untuk dapat meningkatkan skala ekonomis dan daya saing produk. Harapannya mereka dapat membentuk korporasi dan menjalin kemitraan dengan off taker.
Di sisi lain petani di Kolaka Timur juga perlu meningkatkan produktivitas tanaman kakao, karena rata-rata tanaman yang dibudidayakan sudah tua.
Menurut Bambang ini adalah permasalahan utama yang ia temukan di lapangan untuk membangun proyek pilot pengembangan kakao berbasis korporasi.
“Permasalahan utama yang dijumpai adalah rendahnya produktivitas kakao saat ini akibat tanaman yang sudah berumur diatas 15 tahun dan kondisi tanah yang rusak akibat pengikisan permukaan dan penggunaan pupuk anorganik berlebihan,” sambungnya.
Bambang dan Pemerintah Kabupaten Kolaka Timur akan mengupayakan peremajaan tanaman kakao tua dan penggunaan pupuk organik melalui alokasi anggaran APBN dan APBD.  
Kementan melalui Ditjen Perkebunan mengalokasikan lebih dari Rp12 miliar bagi Kolaka Timur untuk peremajaan dan pengalokasian pupuk organik pada tahun ini.
Tahap awal akan dilakukan peremajaan  tanaman seluas 550 ha di 5 LEM di kecamatan Aere dan Lambodia yang dianggap paling siap saat ini terutama dari penyediaan benih kakao.
"Tahun berikutnya akan terus diperluas sehingga dalam 5 tahun kedepan diharapkan produktivitas kakao di kolaka timur meningkat dari 500 hingga 700 ton per ha menjadi 1500 hingga 3000 ton per ha dan penerapan inovasi teknologi untuk peningkatan nilai tambah produk kakao,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kakao sulawesi tenggara
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top