Investor Bandara Kediri Dapat Izin Prinsip

Kementerian Perhubungan telah memberikan izin prinsip untuk investor swasta yang berniat membangun bandara di Kediri, Jawa Timur.
Rivki Maulana | 23 April 2018 15:15 WIB
Pengendara sepeda motor melintas di depan area Helipad Surya Air milik PT. Gudang Garam di Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (17/3/2017). Perusahaan rokok tersebut berencana membangun bandara komersil di wilayah Kediri dengan panjang runway 2.300 meter untuk penerbangan pesawat jenis boeing airbus berpenumpang 128-130 orang. - Antara/Prasetia Fauzani

Bisnis.com, PURBALINGGA -- Kementerian Perhubungan telah memberikan izin prinsip untuk investor swasta yang berniat membangun bandara di Kediri, Jawa Timur.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Agus Santoso mengatakan tahapan proyek bakal berlanjut pada penetapan lokasi lahan yang akan dibangun menjadi bandara. Proses pembebasan lahan, konstruksi, hingga operasi bakal digarap antara investor swasta dengan BUMN.

"Ini proyek greenfield, nantinya dikerjasamakan antara swasta dan BUMN. Yang sudah tertarik itu AP II [PT Angkasa Pura II]," ujarnya selepas acara groundbreaking Bandara Jenderal Besar Soedirman, Purbalingga, Senin (23/4/2018).

Agus mengungkapkan investor yang membangun bandara di Kediri hanya bisa bekerja sama dengan BUMN karena saat ini hanya ada dua BUMN yang memegang izin badan usaha bandar udara (BUBU), yakni PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II ( Persero

Dia menekankan progres proyek Bandara Kediri diyakini tidak akan terhambat kendati proyek tersebut ditolak untuk masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Menurut Agus, proyek ini akan tetap berjalan karena investor sudah menyatakan kesiapan pendanaan.

Untuk diketahui, investor yang akan membangun bandara di Kediri adalah PT Gudang Garam Tbk. (GGRM). Perusahaan rokok tersebut berencana memulai konstruksi fisik pada 2018.

Dalam keterbukaan informasi kepada pemegang saham pada Maret 2018, Direktur dan Corporate Secretary GGRM Heru Budiman menyatakan landasan pacu dan terminal diperkirakan rampung pada 2020. Bandara itu juga dirancang untuk bisa melayani penerbangan domestik dan internasional.

Sumber pendanaan proyek bandara berasal dari kas operasional yang dihasilkan perusahaan setiap tahun. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, per Desember 2017, posisi kas dan setara kas GGRM mencapai Rp2,32 triliun.

Pada Agustus 2017, GGRM menerbitkan keterbukaan kepada publik perihal pembelian tanah seluas 2,68 juta meter persegi atau 268 hektare (ha) senilai Rp845,31 miliar. Lahan yang dibeli berlokasi di empat desa di Kabupaten Kediri, yakni Desa Bulusari di Kecamatan Tarokan, Desa Grogol di Kecamatan Grogol, Desa Jatirejo dan Desa Tiron di Kecamatan Banyakan.

Tag : bandara, gudang garam
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top