Kemenperin Dorong Kemajuan Pebisnis Fesyen

Kementerian Perindustrian menaruh perhatian pada bisnis fesyen mengingat segmen ini merupakan salah satu dari 16 kelompok industri kreatif yang berperan penting dalam perekonomian nasional.
Annisa Sulistyo Rini | 28 Maret 2018 20:40 WIB
Model memperagakan busana pada pembukaan Indonesia Fashion Week 2018, di Jakarta, Rabu (28/3/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Perindustrian menaruh perhatian pada bisnis fesyen mengingat segmen ini merupakan salah satu dari 16 kelompok industri kreatif yang berperan penting dalam perekonomian nasional. 

Sepanjang tahun lalu, industri fesyen telah menyumbang kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 3,76%, dengan nilai ekspor mencapai US$13,29 miliar atau naik 8,7% dari tahun sebelumnya.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan capaian tersebut menunjukkan industri fesyen nasional memiliki daya saing di pasar global. 

Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, industri fesyen harus terus didukung sehingga mampu bertahan dan meningkatkan pangsa pasar Indonesia di pasar internasional yang saat ini baru mencapai 1,6%. 

"Dalam hal ini Kemenperin melalui Ditjen IKM terus berupaya mendorong pertumbuhan industri fesyen nasional dengan penumbuhan wirausaha baru, penerapan SNI, penguatan pendidikan vokasi industri fesyen yang tersertifikasi SKKNI, fasilitasi kemudahan KUR, restrukturisasi mesin/peralatan, fasilitasi promosi, pendampingan tenaga ahli desain, peningkatan kompetensi SDM serta penguatan branding produk fesyen untuk meningkatkan kecintaan konsumen pada produk dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan resmi (28/3/2018).

Untuk memperluas jangkauan pasar produk fesyen, Kemenperin memiliki program e-Smart IKM yang telah diperkenalkan sejak 2016. Hingga kini, Kemenperin telah bermitra dengan lima marketplace, yaitu Shoppe, Bukalapak, Tokopedia, Belanja.com dan Blibli. 

Pada tahun lalu,  Kemenperin telah melakukan pelatihan e-Smart IKM kepada 1.730 IKM. Pada 2018 akan dilakukan workshop serupa untuk 4.000 IKM. 

"Kami berharap para peserta Indonesia Fashion Week  2018 dapat masuk ke dalam program e-Smart IKM ini,” kata Gati.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga turut mengapresiasi Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) yang telah konsisten mengembangkan industri fesyen.

“Saya mengapresiasi APPMI yang telah konsisten memasuki tahun ketujuh menyelenggarakan Indonesia Fashion Week," ujar Airlangga. 

Dalam gelaran Indonesia Fashion Week, Kemenperin memfasilitasi 18 gerai industri kecil dan menengah yang merupakan binaan Ditjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) dan Ditjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) yang terdiri dari industri fesyen, kain tenun, aksesori, dan alas kaki.

Tema yang diangkat oleh Indonesia Fashion Week tahun ini adalah cultural identity. Identitas budaya yang terdapat pada kain-kain nusantara seperti batik dan tenun menjadi bagian dari produk fesyen yang menjadi ciri khas fesyen Indonesia.

“Padu padan etnik lokal menjadikan produk fesyen yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga meningkatkan value added yang diperoleh sektor industri fesyen nasional,” tutur Airlangga.  

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia sangat berpotensi menguasai industri fesyen muslim dunia. Indonesia juga merupakan satu dari lima besar negara anggota Organisasi Kerja Sama negara Islam (OKI) sebagai pengekspor fesyen muslim terbesar di dunia, setelah Bangladesh, Turki, Maroko, dan Pakistan. Indonesia sangat layak untuk dapat menjadi kiblat fesyen muslim di dunia pada 2020. 

“Saya menyampaikan apresiasi kepada APPMI karena pada event pameran ini terdapat satu hall khusus untuk fesyen muslim. Hal ini tentu sebagai salah satu bentuk upaya dari APPMI untuk turut serta dalam mewujudkan Indonesia menjadi kiblat fesyen muslim dunia,” ucap Airlangga.

 

Tag : fesyen
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top