Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ambil Peluang dari Perang Dagang AS-China

Indonesia diyakini berpeluang meningkatkan nilai ekspor ditengah perang dagang Amerika Serikat dengan China yang berbuntut saling mengenakan tarif masuk ke masing-masing negara berseturu tersebut.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 26 Maret 2018  |  19:47 WIB
. - .Bloomberg
. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia diyakini berpeluang meningkatkan nilai ekspor ditengah perang dagang Amerika Serikat dengan China yang berbuntut saling mengenakan tarif masuk ke masing-masing negara berseturu tersebut.

Amerika Serikat mendeklarasikan pengenaan bea masuk untuk produk alumunium 10% dan baja 25% terhadap negara produsen dua komoditas itu. Salah satu yang berdampak ialah China. Negara itu kemudian mengancam untuk menaikan tarif masuk untuk bagi produk Amerika Serikat.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W Kamdani mengatakan sektor dalam negeri harus memastikan terlebih dulu produk mana yang akan dinaikan dumping oleh kedua negara baik AS maupun China. Dari situ, baru diketahui mana saja yang bisa disodorkan Indonesia untuk pengembangan ekspor.

“Nanti akan dilihat produk apa saja yang dimasukan ke dalam kenaikan tarif oleh kedua negara. Apakah indonesia berkesempatan meningkatkan ekspor ke kedua negara tersebut. Jadi itu pasti ada peluang untuk Indonesia,” kata Shinta kepada Bisnis, Senin (26/3/2018).

Salah satu produk yang dinggap dapat meningkatkan nilai ekspor dalam tensi perang dagang ini ialah industri tekstil. Pasalnya AS tidak dapat memproduksi tekstil di negaranya. Menurutnya sektor lain juga dapat mencari celah meraup untuk untuk pengembangan ekspor dari dalam negeri.

Shinta menerangkan, China berencana mengenakan tarif untuk sejumlah produk AS yang akan masuk ke negara itu, seperti tarif masuk 15% untuk steel pipes, buah-buahan dan minuman anggur. Sementara tarif 25% dikenakan untuk produk ekspor AS ke China yakni daging Babi dan Alumunium daur ulang.

Berbeda dengan Negeri Paman Sam yang berencana bakal menaikan bea masuk lainnya untuk produk terknologi masa depan dari China seperti robotiC dan computer quantum. Indonesia bukan sebagai negara produsen robotik akan sulit meraup peluang dari rencana AS ini.

Hingga kini menurutnya belum ada dampak yang cukup berarti terhadap perang dagang AS- China. Malah pemerintah diharapkan siaga terhadap pengenaan bea masuk yang bakal dihadapi oleh China. Pasalnya barang dari China akan dialihkan ke pasar lain termasuk ke Indonesia.

“Pemerintah perlu mengawasi perdagangan dengan China, karena Indonesia juga baru mendapatkan peluang investasi ekspor, takutnya produksi dalam negeri malah kalah bersaing dengan China [akibat produk China membanjiri RI],” katanya.

Pihaknya mengharapkan pemerintah melakukan maping produk yang akan dinaikan tarif masuk oleh masing-masing negara. Namun untuk saat ini masih cukup dini jika menyebutkan produk yang akan mengalami perkembangan ekspor akibat perang dagang.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top