Proyek Kabel Bawah Laut Sumatra-Jawa Masih Jadi Opsi

PT PLN (Persero) masih melakukan evaluasi terhadap pembangunan proyek High Voltage Direct Current (HVDC) atau kabel bawah laut tegangan tinggi arus searah 500 kilovolt (kV) yang menghubungkan Sumatra dan Jawa.
Denis Riantiza Meilanova | 23 Maret 2018 06:33 WIB
Teknisi melakukan perawatan rutin perbaikan jaringan listrik di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (12/2). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA -- PT PLN (Persero) masih melakukan evaluasi terhadap pembangunan proyek High Voltage Direct Current (HVDC) atau kabel bawah laut tegangan tinggi arus searah 500 kilovolt (kV) yang menghubungkan Sumatra dan Jawa. 

Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Roekman mengatakan PLN membutuhkan intrakoneksi antara sistem Sumatra dan Jawa-Bali sehingga rencana pengembangan proyek HVDC masih tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2018-2027. Namun, pihaknya belum memutuskan apakah proyek HVDC ini akan dilanjutkan atau justru diganti dengan menggunakan transmisi daya bolak balik atau High Voltage Alternating Current (HVAC).

"Kami akan lakukan evaluasi sehingga opsi itu dibuka apakah HVDC atau HVAC.  Karena kami lihat sekarang pembangunan  PLTU ultra super critical cukup signifikan, kami butuh tingkat keandalan Sumatra dan Jawa," ujarnya di Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengubah aliran listrik 500 kv tersebut menjadi dari Jawa ke Sumatra. Awalnya, proyek ini dibangun untuk mengaliri listrik dari Sumatra ke Jawa.

Diproyeksikan Pulau Jawa akan mengalami kelebihan daya listrik atau surplus sekitar 5.000 MW karena mendapat pasokan besar program pembangkit 35.000 MW.

Proyek HVDC direncanakan bakal mulai dibangun pada 2021 dan ditargetkan rampung pada 2024. Proyek itu sempat menjadi polemik pada 2016.

Menteri ESDM kala itu, Sudirman Said, ingin HVDC tetap dibangun karena beban di Jawa sudah sangat maksimal. Pembangkit mulut tambang dibangun di Sumatra Selatan, lalu listriknya dialirkan ke Jawa melalui HVDC agar tidak overload.

Sementara itu, PLN sempat ingin menghapuskan HVDC dari RUPTL. PLN beralasan tidak logis jika Sumatra memasok listrik ke Jawa, padahal Sumatra masih kekurangan listrik.

Adapun Jonan mengatakan daerah yang kelebihan pasokan daya seharusnya mengirimkan listrik ke daerah yang mengalami kekurangan.

Tag : pln
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top