SMF Bangun Bengkel Pesawat Pertengahan 2019

PT Sriwijaya Maintenance Facility, anak usaha Sriwijaya Air Group, menargetkan pembangunan fasilitas perawatan pesawat sudah bisa dimulai pada pertengahan 2019.
Rio Sandy Pradana | 22 Maret 2018 16:42 WIB
Pesawat Sriwijaya Air di Bandara Silangit di Tapanuli Utara, Sumatra Utara. - Bandara Silangit Antara/M. Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA – PT Sriwijaya Maintenance Facility, anak usaha Sriwijaya Air Group, menargetkan pembangunan fasilitas perawatan pesawat sudah bisa dimulai pada pertengahan 2019.

Direktur Utama SMF Richard Budihadianto mengatakan operasional fasilitas akan disesuaikan dengan penyelesaian Bandara Bintan yang sedang dalam proses pembangunan. Bintan menjadi lokasi investasi karena lokasi yang strategis dekat dengan Singapura sebagai pusat industri jasa angkutan udara di Asia Tenggara.

"Bandara [Bintan] kan selesai pada awal 2020, pertengahan 2019 kami harus sudah mulai membangun [fasilitas]," kata Richard hari ini Kamis (22/3/2018).

Dia menambahkan pembangunan fasilitas perawatan atau MRO (maintenance repair overhaul) setidaknya membutuhkan waktu selama 1 tahun.

Adapun, fasilitas MRO yang dibangun berupa dua line station yang sanggup menampung pengerjaan untuk 3 unit pesawat berbadan lebar (wide body) atau setara dengan 6 unit pesawat berbadan sempit (narrow body).

Terlebih, lanjutnya, Sriwijaya Air yang merupakan perusahaan maskapai terbesar ketiga di Indonesia sudah layak untuk memiliki MRO sendiri. 

SMF berhasil meraih sertifikasi sebagai perusahaan perawatan pesawat terbang atau Approved Maintenance Organization (AMO) dari Kementerian Perhubungan pada 2016. Sertifikat AMO tersebut mempunyai ketentuan untuk Limited Airframe, Limited Accessories, Limited Emergency Equipment, Limited Non Destructive Inspection, Testing and Processing.

Sebelumnya, Managing Director PT Bintan Aviation Investment (BAI) Michael B.K. Wudy mengatakan proyek pengembangan kawasan industri penerbangan (aerospace park) tahap pertama masih berjalan. Salah satunya yang tengah dibangun adalah landas pacu.

"Dana yang dialokasikan untuk Aerospace tahap pertama sekitar US$$100 juta-US$150. Rencananya, luas lahan yang dialokasikan perseroan untuk bandara sekitar 700 hektare," ujarnya

Sementara itu, luas lahan yang dialokasikan untuk pengembangan MRO sekitar 500 hektare. Ada pun, luas lahan yang dimiliki perseroan untuk mengembangkan Aerospace Industry di Bintan mencapai 4.000 hektare.

Tag : sriwijaya air
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top