Ebio Incar Produksi 150 Ton Bio Ester

Ebio Advanced Technology (Ebio), perusahaan asal Jerman, menargetkan memiliki 15 lini produksi bio ester dalam 2 tahun ke depan.
Anggara Pernando | 20 Maret 2018 10:44 WIB
Kelapa sawit. - Bloomberg/Taylor Weidman

Bisnis.com, JAKARTA—Ebio Advanced Technology (Ebio), perusahaan asal Jerman, menargetkan memiliki 15 lini produksi bio ester dalam 2 tahun ke depan. 

Group Chairman Ebio, Toshi Nakajima mengatakan pihaknya menggandeng PT. Servotech sebagai mitra lokal. Perusahaan berharap dapat meyakinkan pelaku industri, instansi penelitian hingga pemerintah untuk menggunakan olahan minyak sawit menggantikan bahan bakar minyak berbasis mineral dan minyak sintesis lainnya. 

"Saat ini pabrik eBio masih memiliki satu lini produksi. Jika sudah full berproduksi, perkiraan produk yang dihasilkan mencapai sekitar 15 ton per hari per lini produksi," kata Nakajima melalui keterangan tertulis, Senin (19/3/2018). 

eBio Advanced Technology (Ebio) didirikan pada 2013. Saat ini perusahaan merupakan pemegang lisensi untuk teknologi eBio yang ditemukan dan dipatenkan Fraunhofer IVV. 

Fraunhofer IVV sendiri merupakan sebuah lembaga riset rekayasa proses dan kemasan di bawah Fraunhofer-Gesellschaft yang berbasis di Jerman. Fraunhofer-Gesellschaft adalah organisasi riset terbesar di Eropa yang memiliki 69 lembaga riset di Jerman, dengan dukungan 24.000 peneliti. 

Sejauh ini bio ester ini dapat digunakan untuk memproduksi berbagai produk industri seperti produk farmasi, kosmetik, makanan, pertanian, perikanan, minyak dan gas, pertahanan, produk konsumen rumahan sampai pelumas industri.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara menyampaikan turunan minyak dari kelapa sawit mendatangkan nilai tambah tinggi. Sebagai contoh, penggunaan pada produk kosmetik memberi nilai tambah hingga enam kali lipat jika dibandingkan dengan minyak sawit. 

“Untuk mengembangkan lebih jauh produk-produk akhir turunan sawit ini, eBio nantinya akan berkolaborasi dengan Balai Besar serta Balai Riset dan Standardisasi di seluruh Indonesia," katanya. 

Ngakan mengatakan sinergi antara swasta dengan pemerintah dalam memberi nilai tambah olahan minyak sawit ini diharapkan dapat memberikan peningkatan perekonomian masyarakat. 

Pada 2017 ekspor minyak kelapa sawit Indonesia mencapai 31,05 juta ton atau naik 23% dibandingkan  dengan 2016 sebesar 25,11 juta ton. Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri sawit

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top