Metamorfosis Cantrang Selama 35 Tahun Versi KKP

Modifikasi cantrang selama puluhan tahun membuat alat tangkap ikan jenis pukat tarik itu berubah dari ramah lingkungan menjadi merusak habitat.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 16 Januari 2018  |  21:40 WIB
Metamorfosis Cantrang Selama 35 Tahun Versi KKP
Nelayan tradisional membenahi alat tangkap cantrang atau pukat tarik selepas menangkap ikan di Pantai Kampung Jawa, Banda Aceh, Aceh, Rabu (3/5). - Antara/Ampelsa

Bisnis.com, JAKARTA - Modifikasi cantrang selama puluhan tahun membuat alat tangkap ikan jenis pukat tarik itu berubah dari ramah lingkungan menjadi merusak habitat.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan Zulficar Mochtar mengatakan cantrang bukanlah pukat harimau atau trawl. Namun, metode dan operasi dan hasil tangkapannya menyerupai trawl, seperti menggunakan perahu untuk menarik jaring yang dibantu gardan.

"Kemudian, banyak sekali modifikasi yang dilakukan sehingga sangat aktif. Ukuran kapal dan mesin penggerak juga semakin besar dari waktu ke waktu. Tali selambarnya pun semakin panjang sampai 1.000 meter," papar dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR, Selasa (16/1/2018).

Zulficar mengatakan target tangkapan cantrang berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan modifikasi alat tangkap. Sebelum 1970, target tangkapan cantrang merupakan ikan dasar (demersal) besar, lalu berkembang menjadi ikan dasar besar dan kecil pada 1990-an. Target semakin berkembang mulai 2010, termasuk menyasar cumi.

Sejalan dengan itu, tipologi armada bermetamorfosis dari kapal berukuran di bawah 5 gros ton (GT) pada era 1960-1970, menjadi kapal kurang dari 20 GT dan bergardan pada 1990. Tipologi armada berkembang lagi menjadi kapal di bawah 30 GT dan bergardan mulai 2000, bahkan berlemari pendingin (freezer) mulai 2010.

Dari sisi pola gerak, kapal cantrang yang tadinya bergerak menggunakan layar, kemudian memakai motor tempel. Mesin berkembang menjadi berukuran 33-120 PK, lalu menjadi 33-200 PK saat ini.

Daerah penangkapan yang semula konsisten di pantai utara Jawa di bawah 12 mil, berkembang menjadi di atas 12 mil. Belakangan, daerah penangkapan meluas ke kawasan lain, termasuk Lampung, Bangka-Belitung, dan Kalimantan Timur.

Permintaan terhadap hasil tangkapan cantrang juga berkembang, dari sekadar untuk ikan segar dan ikan asin menjadi ikan dingin, ikan beku, fillet, dan tepung ikan.

Demikian pula dengan jumlah armada dari 1.370 kapal pada 1980 menjadi 13.300 kapal pada 2015.

Sejalan dengan lompatan jumlah kapal cantrang, proporsi daerah penangkapan bagi setiap unit kapal cantrang dan dogol di wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 712, termasuk Laut Jawa, kurang dari 5 km2 setelah 1990-an. Rasio rerata luasan daerah penangkapan menurun dari 600 km2 menjadi 45 km2 per kapal per tahun.

Pada saat yang sama, terjadi penurunan signifikan catch per unit effort (CPUE) dalam 14 tahun di WPP 712, yakni dari 156 kg per setting dengan dominasi tangkapan ikan petek, kuniran, kurisi, dan gulamah, pada 2002, menjadi 60 kg per setting dengan dominasi tangkapan ikan petek, kurisi, kembung, dan tembang pada 2015.

"Tren hasil tangkapan didominasi ikan berukuran kecil yang menunjukkan indeks keragaman tidak sehat," tutur Zulficar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Cantrang

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top