APHI: Bursa Kayu Online Akan Geser Arah Manajemen Hutan

Manajemen pengelolaan hutan diyakini akan bergeser dari sebatas manajemen produk ke manajemen hutan sebatas ekosistem setelah bursa kayu online diluncurkan.
Sri Mas Sari | 21 November 2017 12:14 WIB
Kapolsek Sungai Ambawang AKP Hardik memeriksa puluhan potongan kayu gelondongan yang dibawa pengendara menggunakan truk saat melintasi jalur Trans Kalimantan di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (6/6). - Antara/Jessica Helena Wuysang

Bisnis.com, JAKARTA - Manajemen pengelolaan hutan diyakini akan bergeser dari sebatas manajemen produk ke manajemen hutan sebagai ekosistem setelah bursa kayu online diluncurkan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo mengatakan perkembangan teknologi digital membuat isu-isu kehutanan global dengan mudah dapat diakses dan direspons oleh organisasi di seluruh dunia.

Implikasinya, pengelolaan hutan akan bergeser dari sistem manual menjadi sistem digital.

"Hal ini mengisyaratkan digitalisasi dari seluruh rangkaian bisnis proses pengelolaan hutan dari hulu ke hilir dari aspek perencanaan, pengelolaan, monitoring dan evaluasi, dan pemasaran hasil hutan," kata Indroyono dalam Rapat Kerja Nasional APHI, Selasa (21/11/2017).

Dari sisi kebijakan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menetapkan digitalisasi sistem pengelolaan hutan dari hulu-hilir dalam bentuk sistem informasi pengelolaan hutan produksi lestari (SI-PHPL), yang mengintegrasikan sistem informasi legalitas kayu (SILK), sistem informasi penatausahaan hasil hutan (SI-PUHH), sistem informasi oenerimaan negara bukan pajak (SI-PNBP), sistem informasi rencana pemenuhan bahan baku industri (SI-RPBBI), serta monitoring dan evaluasi secara elektronik (E-Monev).

Dalam rangka mendukung dan melengkapi sistem informasi pengelolaan hutan produksi lestari (SI-PHPL) itu, APHI melakukan kick on pengembangan pilot Bursa Kayu Indonesia On Line (Indonesian Timber Exchange/ ITE-E Commerce System), bekerja sama dengan PNORS Technology, sebuah perusahaan pengembang IT dari Australia.

“Melalui ITE, produsen dari Indonesia akan terhubung dengan pembeli, baik domestik maupun di seluruh dunia secara online dan transparan, yang secara otomatis memangkas tahapan dan biaya dari transaksi perdagangan dengan menggunakan sistem manual, ”ujar Indroyono.

Dengan sistem ITE, kata dia, perdagangan kayu dan produk kayu dari Indonesia berjalan lebih efektif dan efisien sehingga akan mendatangkan lebih banyak manfaat bagi produsen dan pembeli. Margin yang diperoleh pun akan naik, baik dari sisi produsen maupun pembeli, yang pada akhirnya akan menggeliatkan kembali bisnis kehutanan lndonesia.

Paul Gallo, pendiri dan CEO PNORS Technology Group menjelaskan ITE dikembangkan dari Australian Timber and Hardware Exchange, yang telah diaplikasikan sejak 2002 dan saat ini melayani transaksi online sedikitnya 300 perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan.

"Sistem ini, terbukti efektif dalam mengefisienkan alur proses Perdagangan produk kayu dalam skala internasionaI. ”Penerapan sistem ini akan membantu mempromosikan produk kayu Indonesia yang beragam ke" perdagangan dunia,” ujar Paul.

Indroyono mengatakan, pada tahap pertama, sistem ITE akan diterapkan dulu dalam bentuk uji coba (pilot) untuk meyakinkan produsen kayu di hulu dan hilir sekaligus mengevaluasi untuk perbaikan sistem ke depan.

Indroyono memastikan penerapan sistem ITE akan tetap mengacu pada ketentuan peredaran dan perdagangan hasil hutan. ITE sekaligus dapat menjadi instrumen untuk mempromosikan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) Indonesia karena jangkauan sistem ini yang luas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
verifikasi legalitas kayu

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top