Keramba Jaring Apung Offshore Segera Terwujud di Indonesia

Keramba jaring apung lepas pantai atau KJA offshore perdana di Indonesia sebentar lagi terealisasi. Tebar benih perdana ikan kakap putih akan dilakukan Presiden Joko Widodo pada Desember nanti.
Sri Mas Sari | 16 November 2017 17:16 WIB
Ilustrasi. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Keramba jaring apung lepas pantai atau KJA offshore perdana di Indonesia sebentar lagi terealisasi. Tebar benih perdana ikan kakap putih akan dilakukan Presiden Joko Widodo pada Desember nanti.

Dirjen Perikanan Budi daya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengatakan keramba saat ini sedang dikapalkan dari Norwegia dan diperkirakan tiba di Indonesia akhir November. Setelah dirakit dalam sepekan, keramba akan ditarik ke lokasi di Sabang, Pangandaran, dan Karimunjawa.

"Teknologi kami adopsi dari Norwegia. KJA offshore ini akan siap ditebar ikan pada Desember, yang diharapkan dapat dilakukan langsung oleh Bapak Presiden," kata Slamet dalam seminar 'Sustainable Aquaculture Development', Kamis (16/11/2017).

Dia menjelaskan, dari Norwegia, Indonesia mengadopsi teknologi pembuatan keramba dan pembesaran benih di tengah laut, termasuk sistem pemantauan dan pemberian pakan. Seperti diketahui, Norwegia selama ini maju karena mengandalkan perikanan budidaya, khususnya budi daya ikan salmon, sebagai penggerak utama ekonomi.

Sekitar 80% produk domestik bruto negara di Semenanjung Skandinavia itu disumbang oleh industri akuakultur.

Adapun untuk perbenihan kakap putih alias barramundi, Slamet mengaku sejauh ini teknologi telah dikuasai balai-balai besar perikanan budi daya laut di Indonesia, seperti BBPBL Lampung, BPBL Ambon, BPBL Lombok, BPBL Situbondo, dan BPBL Batam.

Sebanyak 120.000 ekor benih akan ditebar di setiap lubang. Setiap keramba terdiri atas 8 lubang. Norwegia akan melakukan asistensi selama pemeliharaan hingga siap panen 8-10 bulan kemudian. Volume panen diperkirakan 95 ton per lubang.

Slamet berjanji, jika KJA offshore periode pertama ini sukses, masyarakat setempat akan dilibatkan. Koperasi-koperasi unit desa setempat dirancang bekerja sama dengan PT Perikanan Nusantara (Persero) selaku pemenang tender pengadaan KJA offshore.

"Syaratnya, anggota KUD punya pengalaman di perikanan dan punya modal. Tapi, ini masih dihitung karena nanti mereka bekerja sama dengan BUMN [Perinus]," katanya.

Lebih lanjut, Slamet menuturkan kakap putih memiliki prospek cerah. Berbeda dengan kerapu yang cenderung diminati pasar dalam bentuk ikan hidup, permintaan terhadap kakap putih lebih beragam, yakni bisa dalam wujud ikan hidup, ikan segar, maupun fillet.

Pasar barramundi pun lebih luas hingga Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Adapun kerapu relatif terbatas untuk pasar China dan Hong Kong.

KKP meletakkan proyek KJA offshore sebagai prioritas pembangunan perikanan budi daya tahun ini. Dengan anggaran Rp42,1 miliar dari APBN 2017, KKP menargetkan produksi kakap putih 2.415 ton dari ketiga Iokasi KJA atau setara dengan Rp169,2 miliar per tahun.

Sebelumnya dalam Rakornas Kemaritiman medio tahun ini, Presiden Jokowi menyampaikan agar masyarakat mulai beralih dari perikanan tangkap ke budi daya perikanan laut yang belum digarap maksimal oleh nelayan. Pasalnya, marikultur bernilai tambah puluhan kali lipat dari perikanan tangkap.

"Bukan barang mahal, hanya Rp47 miliar. Kalau kita belum bisa kerjakan sendiri, kerja samakan, biar ada transfer of knowledge. Tanpa itu kita tidak akan pernah meloncat. Kita itu terlalu rutinitas, terlalu monoton, terlalu linier, padahal dunia berubah cepat sekali," ucapnya (Bisnis.com, 4/5/2017).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perikanan, keramba, marikultur

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top