Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lion Air Group Danai Penelitian Low Level Windshear

Lion Air Group merangkul BMKG, KNKT, dan Universitas Diponegoro untuk mengkaji, meneliti, dan mengembangkan sistem informasi peringatan dini low level Windshear.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 20 Juli 2017  |  21:20 WIB
Lion Air Group Danai Penelitian Low Level Windshear
Pesawat Lion Air di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan. - Bisnis.com/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Lion Air Group merangkul Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi, dan Universitas Diponegoro untuk mengkaji, meneliti, dan mengembangkan sistem informasi peringatan dini low level Windshear di bandara serta untuk menghasilkan prototipe Low Level Windshear dengan nilai Rp500 juta.

Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait mengatakan penelitian ini akan menggunakan data penerbangan di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Hasil penelitian juga akan dikembangkan ke berbagai bandara untuk dimanfaatkan oleh penerbangan nasional.

"Saya yakin apa yang dilakukan ini akan meningkatkan keselamatan penerbangan nasional, dipandu oleh BMKG dan KNKT," ujarnya melalui siaran pers Kamis (20/7/2017).

Nantinya, hasil dari penelitian semua pihak dapat memperoleh akses dan memanfaatkan pertukaran data dan informasi, dan peringatan dini low level windshear yang akan dibangun.

Edward mengatakan Lion Air Group terpanggil untuk membentuk kerja sama, karena pertumbuhan transportasi udara nasional sangat tinggi. Penelitian perubahan arah angin di level bawah harus segera dilakukan, angka kecelakaan pesawat di Indonesia sudah berbanding terbalik dengan internasional. Kecelakaan pesawat di Indonesia justru naik, sedangkan internasional turun.

Lion Air Group juga mengoperasikan lebih dari 200 pesawat, oleh empat maskapai. Kondisi alam tidak menjamin keselamatan, karena sering berubah. Teknologi penerbangan berkembang, tapi tidak dengan pengamatan peristiwa alam di sekitar bandara.

"Banyak hal yang bisa dikembangkan dari alam, untuk tingkatkan keselamatan penerbangan," kata Edward.

Ketua BMKG Andi Eka Sakya mengapresiasi Lion Air Group. Dalam kerja sama ini BMKG menyediakan data dan atau informasi terkait Low Level Windshear. Termasuk analisa hasil pengamatan udara atas, guna kegiatan penelitian dan pengembangan sistem informasi peringatan dini Low Level Windshear.

Saat ini, Indonesia masih sering terjadi perubahan arah angin secara tiba-tiba khususnya pada musim pancaroba. Peristiwa low level windshear biasanya terjadi saat pesawat mendarat atau lepas landas. Kebanyakan terjadi di bandara-bandara yang terletak di pesisir pantai. Namun bisa terjadi di bandara dengan struktur pembangunan yang tidak perhatikan pergerakan arah angin.

"Kami apresiasi Lion Air Group yang bergerak lebih cepat, melihat kondisi seperti ini. Tak banyak perusahaan yang mau masuk ke dunia penelitian," ujarnya.

BMKG dengan International Civil Aviation Organization (ICAO) sedang membuat program navigasi udara global untuk 2028. Semua negara harus menerapkan program tersebut, dengan menggunakan data meteorologi secara komputerisasi. "Sekarang pengiriman data melalui komputasi, dengan resolusi tinggi."

Pengiriman data meteorologi akan difasilitasi kepada pilot melalui air traffic controller (ATC), untuk pilot mengambil keputusan lebih awas saat menemukan kondisi alam yang membahayakan penerbangan. Penelilian ini mencakup pengolahan data keadaan-keadaan alam di bandara.

"Ini landasan kita siapkan menuju 2028, tak bisa langsung diterapkan, harus diintergasikan," kata Andi Eka.

Perjanjian kerja sama ini akan menjadi jalur untuk temuan baru. Dia berharap bisa menjadi catatan agenda internasional, karena akan berkontribusi mengurangi risiko kecelakaan di penerbangan Indonesia.  

Ketua KNKT Suryanto Cahyono mengatakan, selama ini petugas ATC ragu menginformasikan perubahan arah angin yang terjadi di bandara. Karena tidak dapat terbaca jelas oleh radar udara. "Kendala selama ini adalah masalah cuaca. Di Indonesia sudah sangat riskan."

KNKT secara khusus berkomunikasi dengan Lion Air Group untuk membantu penelitian keselamatan penerbangan nasional.

Wakil Rektor IV Universitas Diponegoro Ambariyanto mengaku siap membantu pemerintah melakukan penelitian level bawah perubahan arah angin atau Low Level Windshear. Adapun dana riset dianggarkan sekitar Rp36 miliar. "Setiap tahun dana riset kami naik, tahun depan sekitar Rp60 miliar.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lion air
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top