Harga Cabai Mulai Turun, Petani Khawatir Bakal Terjun Bebas

Harga cabai rawit merah mulai berangsur turun sejak pertengahan Maret 2016
Azizah Nur Alfi | 21 Maret 2017 06:29 WIB
Cabai merah - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Harga cabai rawit merah mulai berangsur turun sejak pertengahan Maret, didorong faktor cuaca yang kian membaik. Harga cabai rawit merah diprediksi akan terus turun dan berpeluang merugikan petani jika pemerintah tak segera mengambil langkah antisipasi.

Kementerian Pertanian merilis harga cabai rawit merah per 20 Maret 2017, tertinggi di Tanah Bumbu sebesar Rp115.000 per kg, terendah di Magelang, Sleman, dan Kediri sebesar Rp40.000 per kg, dan di Pasar Induk Kramat Jati sebesar Rp71.000 per kg. Di tingkat petani, harga cabai rawit merah per 20 Maret 2017 di Blitar dan Kediri sebesar Rp35.000 per kg.

Berdasarkan angka prognosa, ketersediaan cabai rawit merah pada Maret sebesar 75.465 ton dengan luas panen mencapai 35.611 ha. Adapun, kebutuhan cabai rawit merah sebesar 68.472 ton, sehingga terjadi kelebihan 6.993 ton. Kelebihan produksi diprediksi akan terjadi hingga Juni sebesar 9.083 ton.

Sekjen Asosiasi Agribisnis Cabe Indonesia (AACI) Abdul Hamid menyampaikan harga cabai rawit merah yang sempat menembus angka Rp160.000 per kg menjadi daya tarik bagi petani lain untuk menanam serupa. Akibatnya, petani yang menanam cabai rawit merah melonjak hingga tiga kali lipat. Hal ini jelas berimplikasi pada produksi cabai rawit merah yang berlebih.

Hamid mengaku khawatir tren penurunan harga cabai rawit merah akan diikuti dengan harga yang terjun bebas. Dia memperkirakan harga cabai rawit merah di tingkat petani akan mencapai titik terendah pada April mendatang, seiring dengan panen raya di sejumlah daerah. Saat ini harga cabai rawit merah di tingkat petani sekitar Rp30.000an per kg.

Menurutnya, tren penurunan harga cabai rawit merah murni karena faktor supply and demand. Upaya pemerintah menggenjot program 10 juta benih cabai dan mengungkap kartel cabai rawit merah, tidak serta merta mendorong turunnya harga cabai rawit merah.

"Saya perkirakan di bulan April akan murah sekali di tingkat petani. Ini murni karena supply and demand. Setelah Kediri panen, menyusul Blitar," tuturnya, Senin (20/3).

Maka, sebelum harga cabai rawit merah jatuh di tingkat petani, dia mendorong agar pemerintah segera menyiapkan langkah antisipasi mengatasi hal tersebut. Menurutnya, perlu ada kebijakan agar industri menyerap hasil panen petani. Selain itu, perlu dibahas tentang sistem pengolahan ketika hasil panen melimpah.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sudjono ketika paparan tentang perkembangan pasokan dan harga aneka cabai dan bawang merah menjelang puas dan hari raya Idul Fitri 2017, di Kantor Ditjen Holtikultura pada Senin (20/3).

Spudnik menyampaikan dengan cuaca yang makin baik, maka mendorong produksi cabai semakin normal. Namun, pasokan cabai yang cenderung membaik, justru diikuti dengan harga yang tidak kondusif.

Diantara upaya yang dilakukan pemerintah yakni mendorong kemitraan dengan industri besar. Pemerintah juga akan melakukan pemetaan kebutuhan industri besar.

"Saat ini asosiasi khawatir harga akan merosot terus. Maka, kami akan menggelar rapat besok [Selasa, 21 Maret] dengan mengundang industri, asosiasi, untuk menjaga agar harga tidak terjun bebas," tuturnya.

Staf Usaha dan Pengembangan Pasar Kramat Jati Tumin Suminto menyampaikan saat ini BUMD Provinsi DKI Jakarta tengah membeli alat penyimpan cabai dan bawang merah dari Cepu, Jawa Tengah. Alat dengan kapasitas per unit mencapai 25 ton itu, mampu menyimpan cabai selama 3 bulan dan bawang merah selama 6 bulan. Dengan alat ini, harapannya tidak ada lagi persoalan cabai dan bawang merah.

"Cabai tidak bisa dipetik saat musim hujan. Jika dipaksa maka 15% akan busuk. Artinya, cabai yang busuk ini akan dikonversikan menjadi tanggung jawab konsumen," kata anggota tim TPID DKI Jakarta ini.

Tabel:
Manajemen Pola Tanam/Produksi Cabai Rawit 2017 (ton):
Produksi: 986.605
Kehilangan/tercecer: 50.909
Kebutuhan: 848.605
   Konsumsi rumah tangga: 660.347
   Konsumsi non rumah tangga: 188.258
   Benih: 2.762
   Industri Besar: 28.463
   Industri Kecil Menengah: 49.762
   Horeka dan PKL: 107.271
Neraca: 87.091

Luas tanam: 193.452 ha

Sumber: Ditjen Holtikultura Kementerian Pertanian

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertanian

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top