Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Akibat Berbagai Masalah Ini, Inflasi di Balikpapan Bisa Melejit

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan mewaspadai dampak kelanjutan berlangsungnya La Nina yang dinilai berpotensi mengganggu ketersediaan pasokan komoditas pangan di tingkat pemasok akibat curah hujan yang tinggi.
Nadya Kurnia
Nadya Kurnia - Bisnis.com 14 Januari 2017  |  05:15 WIB
Pasar tradisional - Ilustrasi/Antara
Pasar tradisional - Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, BALIKPAPAN - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan mewaspadai dampak kelanjutan berlangsungnya La Nina yang dinilai berpotensi mengganggu ketersediaan pasokan komoditas pangan di tingkat pemasok akibat curah hujan yang tinggi.

Namun selain La Nina, TPID juga mewaspadai beberapa faktor lain yang juga dianggap mampu berkontribusi terhadap laju inflasi sepanjang tahun ini, di antaranya adalah pola konsumsi musiman, kenaikan tarif listrik, tarif pengurusan STNK dan BPKB, harga minyak dunia, dan tarif cukai rokok.

“Pola musiman mendorong tingkat konsumsi masyarakat, biasanya terjadi saat hari besar keagamaan dan libur panjang. Sementara itu, harga minyak dunia berpotensi mempengaruhi harga BBM nonsubsidi dan avtur,” jelas Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Suharman Tabrani, Jumat (13/1/2017).

Adapun komoditas yang permintaannya meningkat dengan pola musiman adalah daging ayam ras, tiket pesawat, dan bahan makanan lainnya.

Untuk mengantisipasi risiko inflasi, TPID akan berupaya menstabilkan harga komoditas lainnya, agar laju inflasi akibat kenaikan harga pada kelompok pengeluaran yang rata-rata bersifat jasa itu dapat ditekan. Salah satunya adalah dengan melakukan operasi pasar.

Selain itu, bank sentral juga akan memberikan bantuan 5.000 bibit pohon cabai siap tanam yang akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Upaya ini bertujuan untuk mengoptimalkan urban farming. Apalagi cabai merupakan salah satu komoditas yang sering kali mengalami kenaikan harga.

“Sebelumnya, TPID melalui Bulog telah melakukan penjualan cabai rawit dengan harga normal [Rp55.000/Kg] pada 10 Januari. Selain itu, pemda akan memperkuat kerja sama dengan daerah pemasok bahan makanan, dan Bulog akan memperkuat RPK binaannya,” tukas Suharman.

Laju inflasi Kota Balikpapan sepanjang 2016 tercatat mencapai 4,13%, tertinggi kedua se-Kalimantan. Namun, TPID menganggap angka tersebut merupakan level inflasi terendah selama tujuh tahun terakhir.

Berdasarkan pencatatan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, laju inflasi kota minyak selama tujuh tahun terakhir mulai 2010 secara berturut-turut hingga 2015 mencapai 7,38%, 6,45%, 6,41%, 8,56%, 7,43%, dan 6,26%.

Adapun komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah angkutan udara, rokok kretek filter, ikan layang, papan, dan sewa rumah dengan andil masing-masing sebesar 1,99%, 0,27%, 0,26%, 0,23%, dan 0,18%.

"Inflasi pada tarif angkutan udara dipengaruhi oleh lonjakan permintaan pada momen-momen hari besar keagamaan dan libur sekolah, sementara pada rokok kretek filter dipengaruhi oleh kenaikan cukai rokok yang berlaku sejak awal tahun lalu," jelas Suharman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi balikpapan La Nina
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top