2017, Bisnis Kargo Masih Potensial

Pelaku usaha kargo menilai bisnis kargo pada tahun ayam api mendatang diprediksi masih menorehkan angka positif berkat pembukaan penerbangan langsung atau direct call ke luar negeri.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 21 Desember 2016 18:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha kargo menilai bisnis kargo pada tahun ayam api mendatang diprediksi masih menorehkan angka positif berkat pembukaan penerbangan langsung atau direct call ke luar negeri.

Sigit Muhartono, Direktur Cargo Garuda Indonesia mengungkapkan angka pertumbuhan kargo Garuda pada 2017 diprediksikan sekitar 20% atau senilai US$246 juta.

“Ini didorong penerbangan langsung ke luar negeri, ke tiga destinasi baru yang berkontribusi 4% atau US$1,8 miliar export atau outbound Indonesia terhadap pertumbuhan total kargo yang diprediksi US$54 miliar,” jelas Sigit kepada Bisnis, Rabu (21/12).

Dia mengatakan sepanjang 2016 ini saja, volume kargo yang paling banyak sekitar 60% berasal dari penerbangan domestik yaitu Jakarta. Pasalnya Jakarta menyumbang kargo sebesar 39% atau sekitar 118.000 ton dari total 307.000 ton.

Sementara sisanya sekitar 40% berasal dari kargo internasional yang datang dari Eropa,, Australia dan Cina. Sigit menuturkan pada 2016 ini, volume kargo yang diangkut Garuda sebanyak 331 ton.

“Diprediksikan bisa meningkat menjadi 442.000 ton pada tahun 2017,” sambungnya.

Sementara itu Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia, Yukki Nugrahawan Hanafi menilai angkutan kargo termasuk dalam kategori angkutan udara tidak akan banyak mengalami pertumbuhan yang bisa mendongkrak perbaikkan industri logistik tahun depan.

Dia menilai bisnis logistik jasa kurir dengan e-commerce yang menstimulus keterisian kargo belum bisa memulihkan bisnis logistik.

“Kurir nilainya baik, tetapi karena secara moda angkutan udara masih dibawah 5%, belum dapat mempengaruhi pertumbuhan secara signifikan,” ungkap Yukki.

Sebagai informasi, sebelumnya Yukki memberikan prediksi bahwa bisnis logistik pada tahun mendatang diproyeksi cenderung stagnan, karena banyak faktor ekonomi makro yang belum kondusif.

Yukki mengharapkan agar tahun depan angka ekspor Indonesia mengalami kenaikkan agar bisa mendongkrak industri logistik khususnya melalui moda transportasi udara dan laut.

Selain itu, impor melalui transportasi udara juga berpeluang meningkat seiring perubahan pola perdagangan digital. Dia berharap agar harga barang komoditas unggulan di Indonesia juga mengalami perbaikkan di kancah perdagangan internasional.

Tag : kargo, alfi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top