Jelajah 'Pabrik' AirAsia

Beralas rumput sintetis, sejumlah orang tampak bersantai di sofa-sofa bean bag. Sebagian asyik ngobrol, lainnya sibuk memainkan telepon genggamnya. Di atas kepala mereka melintas dua jembatan baja yang menghubungkan dua lantai. Sepintas terlihat seperti pabrik, tetapi beginilah suasana AirAsia Red Quarter.
Dika Irawan | 20 Desember 2016 11:04 WIB

Beralas rumput sintetis, sejumlah orang tampak bersantai di sofa-sofa bean bagSebagian asyik ngobrol, lainnya sibuk memainkan telepon genggamnya. Di atas kepala mereka melintas dua jembatan baja yang menghubungkan dua lantai. Sepintas terlihat seperti pabrik, tetapi beginilah suasana AirAsia Red Quarter.

Kantor pusat maskapai asal Negeri Jiran ini bertetanggaan dengan Bandara Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2), Sepang, Malaysia. Saking dekatnya, menuju ke gedung ini bisa dilakukan dengan jalan kaki dari bandara. Dibangun sejak 2014 kemudian rampung pada 2016, gedung berlantai 6 ini diperuntukan bagi 2.000 karyawan AirAsia.  Area perkantorannya berada di lantai 4 hingga 6.

Lantaran baru tiga bulan diresmikan, gedung ini masih terlihat kinclong luar dalam. Berdasarkan pengamatan Bisnis, bangunan ini tampil dengan gaya arsitektur modern. Berwarna putih eksterior bangunan tampil minimalis, tanpa ornamen hanya memunculkan garis-haris horizontal dan vertikal. Satu-satunya objek perhatian adalah logo AirAsia dan replika pesawat yang mendarat di sudut atap bangunan.

Masuk ke dalam gedung, para tamu disuguhkan dengan interior bergaya industrial. Kesannya begitu kentara pada penggunaan metal berwarnaabu-abu gelap jembatan maupun tangga bermaterial logam. Kesan gelap tersebut semakin kuat karena bagian pilar-pilar dan dinding-dindingnya dicat putih.

Elemen interior lainnya yaitu langit-langit dibuat menganga  sehingga terlihat pipa-pipa dan saluran pembuangan menjalar. Adapun lantai-lantainya hanya dipleseter guna memunculkan kesan belum selesai atau unfinished. Sementara furnitur-furniturnya tampil dengan gaya vintage.

Jendela-jendela berdesain lebar di tiap lantai membuat cahaya dari luar begitu leluasa masuk ke dalam gedung. Dengan kondisi tersebut, seseorang yang berada di dalam gedung bisa langsung melihat situasi bandara maupun hamparan perkebunan sawit yang mengeleliling area tersebut.

Selain kantor, gedung ini memiliki berbagai fasilitas seperti surau, ruang pertemuan, kafe, kantin luas, ruang duduk awak pesawat, dan gimnasium. Lewat desain ini maskapai tersebut ingin merefleksikan tekadnya menjadi penerbangan nomor wahid di Malaysia dengan menggabungkan elemen-elemen profesional, menyenangkan, dan ramah.

Kesan fun terjawab dari area santai di tengah-tengah ruangan, ada sofa bean bag, bangku panjang berbentuk setengah lingkaran, dan kursi ragam kreasi. Di sinilah para karyawan AirAsia melepaskan penatnya. Kebetulan karena berdekatan natal, di area tersebut ditaruh pohon natal raksasa.Selain tempat berkumpul, area ini pun digunakan untuk berbagai acara perusahaan. Di sudut lain berjajar puluhan meja makan layaknya sebuah restoran.

Masih di area yang sama, penulis bisa menyaksikan empat kotak persegi panjang di bagian atas. Satu kotak di lantai 5, sedang sisanya di lantai paling ujung. Di dalam kotak-kotak tersebut sudah terpasang seperangkat perabotan pertemuan seperti kursi dan meja. Inilah ruang-ruang pertemuan yang dirancang dengan suasana lebih privat.

Bila di lantai 4 riuh ramai, maka di lantai 5 suasananya begitu tenang. Area ini merupakan area kerja bagi beberapa divisi perusahaan. Di lantai inipula penulis berkesempatan mengunjungi salah satu ruangan bernuansa futuristik. Ruang tersebut digunakan untuk mencoba teknologi-teknologi terbaru seperti X-Box, Cardboard Google, melihat lebih dekat bagian tubuh dan kursi pesawat Airbus A320neo.

Sepanjang mata memandang, penulis tidak menemukan penyekat atau partisi yang memisahkan ruang-ruang kerja sebagai mana kantor pada umumnya. Sehingga memungkinkan siapa pun dapat berinteraksi satu dengan lainnya tanpa perlu mengetok-ngetok pintu, termasuk melihat CEO AirAsia Tony Fernandes tengah sibuk terlibat pembicaraan dengan seseorang.

Menurut penuturan pegawainya, kantor ini mengusung konsep open office atau kantor terbuka agar tidak membatasi komunikasi antara pimpinandengan pegawai. Lewat konsep ini seluruh orang yang berada di kantor ini dalam posisi sejajar. Umpamanya, seorang pegawai bagian bawah pun bisa langsung menemui atasannya untuk mengemukakan sebuah gagasan. Konsep open office juga berlaku di seluruh kantor-kantor AirAsia di berbagai negara.

Melalui sentuhan interior industrial yang terkesan tak beraturan, kantor ini ingin memenuhi hasrat jiwa muda dalam berkarya. Karenanya selama di kantor ini tidak terlihat orang-orang yang mengenakan seragam dan jas. Busananya jauh dari kesan formal, tak terkecuali Tony yang hari itu mengenakan kaos hitam bertopi merah.

Konsep-konsep yang sebetulnya marak dipraktikan perusahaan-perusahaan di industri kreatif. Beberapa pendapat muncul kantor-kantor berkonsep bebas ini tak lain seiring lahirnya generasi milenial yang memiliki mobilitas dan daya kreatif tinggi. Tema profesional dan fun yang diusung AirAsia berhasil tersampaikan melalui desain interior maupun budaya kantor. 

 
 
Foto: Dika Irawan

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
airasia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top