BI: Pariwisata Pesat, Pertanian Bali dan NTB Kini Jadi Alternatif Ekonomi

Sektor pariwisata untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara Barat cukup melaju. Saat ini pemerintah daerah perlu mencari alternatif sektor potensial lainnya untuk menggerakkan ekonomi.
Eka Chandra Septarini & Natalia Indah Kartikan | 02 November 2016 14:32 WIB
Petani tengah menggarap sawah - Ilustrasi/Reuters/Amit Dave

Bisnis.com, MATARAM - Sektor pariwisata untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara Barat cukup melaju. Saat ini pemerintah daerah perlu mencari alternatif sektor potensial lainnya untuk menggerakkan ekonomi.

Pertanian merupakan salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian lebih. Selain berdampak pada ketersediaan pangan, lahan di Bali dan NTB masih sangat potensial untuk digarap guna meningkatkan perekonomian masyarakat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia provinsi NTB, Prijono mengatakan pihaknya optimistis pertanian akan menjadi penggerak ekonomi di 2017 meskipun masih belum terasa peningkatan yang drastis.

"Saya melihat pertanian lebih optimistis. Semoga anomali cuaca sudah tidak terlalu besar. Selain itu saya rasa infrastruktur untuk bendungan dan irigasi sudah berjalan cukup baik," ujar Prijono kepada Bisnis saat ditemui di kantornya, Mataram, Selasa (1/11/2016).

Prijono melihat ketergantungan ekonomi NTB kepada sektor tambang harus perlahan dikurangi guna meningkatkan produktivitas dari sektor lain. Lebih lanjut, Prijono menyebut potensi alam NTB yang masih memiliki area lahan subur membuat peluang untuk mengembangkan sektor pertanian menjadi lebih terbuka lebar.

Untuk itu, Prijono berusaha terus mendorong peningkatan produksi pertanian dengan melakukan inovasi dan juga penggunaan teknologi terpadu dalam proses persiapan hingga paska panen.

"Sektor tambang untuk saat ini sih oke-oke saja. Tetapi kita tidak bisa bertumpu pada itu. Saya melihatnya lebih baik sekarang kita mulai mengandalkan potensi yang tidak terkait dengan sumber daya alam, karena kalau itu habis mau apa lagi," ujar Pri sapaan akrab Prijono.

Dalam perkembangan lain, Bali sebagai provinsi tetangga NTB juga masih menyimpan potensi di sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan. Sektor tersebut dapat menjadi sektor unggulan di Bali selain pariwisata yang mulai harus diperhatikan.

Causa Iman Karana, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, mengungkapkan ketiga sektor tersebut, khususnya pertanian perlu menjadi perhatian penting bagi pemerintah guna mendorong pertumbuhan perekonomian Bali pada 2017 mendatang.

“Tingginya alih fungsi lahan yang mengancam ketersediaan pasokan kebutuhan bahan makanan dihadapkan pada peningkatan permintaan yang didorong oleh perkembangan pariwisata. Ini yang harus menjadi perhatian,” ujarnya.

Selain alih fungsi lahan, lanjutnya, risiko anomali cuaca juga berpotensi untuk menghambat kinerja pertanian yang ada di Bali ini. Pihaknya pun telah melakukan pemanfaatan teknologi pangan dengan mengenalkan pola bercocok tanam yang bersahabat dengan alam guna mendorong produktivitas pertanian di Bali.

“Kami telah menerapkan teknik system of rice intensification (SRI) yang dikombinasikan dengan jajar legowo serta penggunaan pupuk organik berbasis MA-11 di kelompok tani ternak dan ikan di Pulagan sehingga berhasil meningkatkan produktivitasnya 20%,” terangnya.

Dia menuturkan, teknik tersebut bertujuan mendorong serta memotivasi petani untuk terus menekuni bidang pertanian dengan mengubah pola tanam lama yang bersifat full-kimia untuk NJ VB berangsur kembali ke pola tanam semi-organic, dan selanjutnya diharapkan dapat menuju kepada sistem tanam padi yang full-organic.

Tag : pertanian
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top