Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

HARGA GAS INDUSTRI: JK: Butuh Upaya Efisiensi Semua Lini

Wakil Presiden meminta upaya efisiensi dari semua lini demi merealisasikan penurunan harga gas industri yang diharapkan berlangsung paling tidak awal Desember 2016.
Lavinda
Lavinda - Bisnis.com 24 Oktober 2016  |  19:14 WIB
Diskusi pakar mengenai alokasi gas bumi diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia pada Kamis (14 Januari 2016).  -  Bisnis/swi
Diskusi pakar mengenai alokasi gas bumi diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia pada Kamis (14 Januari 2016). - Bisnis/swi

Bisnis.com, SUMEDANG — Wakil Presiden meminta upaya efisiensi dari semua lini demi merealisasikan penurunan harga gas industri yang diharapkan berlangsung paling tidak awal Desember 2016.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, instruksi Presiden Joko Widodo untuk melakukan kajian penurunan harga gas dalam kurun waktu dua bulan harus segera diwujudkan melalui efisiensi di semua lini oleh pihak terkait.

Hal itu tentu bertujuan meningkatkan saya saing industri nasional dengan negara lain. Caranya, mulai dari efisiensi proses produksi di dalam negeri, proses distribusi, sampai dengan kebijakan trader yang diimbau tak terlalu banyak.  

“Jadi diefisiensikan semua lini baru bisa mencapai harga yang lebih rendah. Ya awal Desember lah mestinya,”ujarnya di Jatinangor, Jawa Barat, Senin(24/10/2016).

Pernyataan tersebut diungkapkan sebagai tindak lanjut dari instruksi Presiden untuk mendorong harga gas industri tidak lebih dari US$6 per Million British Thermal unit (MMBtu).

Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Presiden No.40/2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi, sebanyak tujuh industri berhak mendapat harga gas murah yakni pupuk, petrokimia, oleokimia, bajam keramik, kaca, dan sarung tangan.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, industri pupuk memiliki komposisi beban harga gas dalam biaya produksi mencapai 70%, industri petrokimia sebesar 70%, industri pulp dan kerta sebesar 8%-32%, industri baja dan produk metal lain 70%, industri keramik sebesar 20%, industri kaca dan botol 25%.

Selanjutnya industri makanan dan minuman sebesar 10% hingga 25%, industri ban dan sarung tangan karet sebesar 7% hingga 10%, industri oleokimia sebesar 15% hingga 25% serta industri tekstil dan alas kaki sebesar 8% hingga 32%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gas industri
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top