Maskapai Berbiaya Murah Jalin Aliansi, Konsultan: Ke Internasional Tak Signifikan

Dampak pembentukan aliansi maskapai berbiaya murah di Asia Pasifik terhadap bisnis maskapai dalam negeri, terutama di rute internasional diperkirakan tidak akan terlalu signifikan.
Ringkang Gumiwang | 17 Mei 2016 21:05 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Dampak pembentukan aliansi maskapai berbiaya murah di Asia Pasifik terhadap bisnis maskapai dalam negeri, terutama di rute internasional diperkirakan tidak akan terlalu signifikan.

Konsultan penerbangan independen dari Communic Avia Gerry Soedjatman mengatakan maskapai Indonesia saat ini masih fokus pada rute internasional dari dan ke Indonesia. Sementara rute di luar Indonesia masih sangat sedikit.

“Maskapai kita itu masih fokus terhadap origin and destination routers. Proporsi through traffic untuk internasional kita sangat sedikit. Bahkan beberapa maskapai hampir nol,” katanya, Selasa (17/5/2016).

Gerry menilai daya saing maskapai dalam negeri untuk mengembangkan rute internasional masih lemah. Selain terkendala dengan aturan yang ada, sambungnya, maskapai juga terkesan memang hanya ingin bermain di rute domestik saja.

“Garuda karena jor-joran. AirAsia karena brand internasional. Lion Air sebelum buka Thai Lion dan memesan ratusan pesawat, enggak ada yang mau gubris. Selain mereka, paling Sriwijaya Air, tapi itu pun presence-nya di luar sedikit sekali,” tuturnya.

Di sisi lain, lanjut Gerry, faktor lainnya yang menghambat pengembangan rute internasional antara lain mahalnya biaya pariwisata Indonesia ketimbang negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia.

Seperti diketahui, sebanyak delapan maskapai berbiaya murah atau low carrier cost membentuk aliansi maskapai penerbangan pertama di kawasan Asia Pasifik sebagai upaya untuk mengoptimalkan konektivitas.

Dikutip dari Bloomberg, kedelapan maskapai LCC tersebut antara lain Scoot Airline, Tiger Airways, Vanilla Air, Tiger Airways Australia, Nok Airlines Pcl, NokScoot, Cebu Pacific Air dan Jeju Air.

"Ini adalah langkah positif untuk maskapai LCC. Salah satu kelemahan untuk LCC selama ini adalah kurangnya network brand. Dengan aliansi ini, mereka berpeluang memperbesar jaringan penerbangan,” ujar Dan Lu, Analis JPMorgan Securities Japan Co.

LCC sendiri tengah berkembang seiring dengan tumbuhnya perekonomian Asia, sehingga mendorong masyarakat untuk terbang pertama kalinya. Setidaknya ada lusinan maskapai yang mulai beroperasi di Asia Pasifik pada akhir dekade ini.

Saat ini, setidaknya ada tiga aliansi maskapai penerbangan yang cukup besar, dan didominasi oleh maskapai dengan layanan penuh atau full sercivice. Ketiga aliansi tersebut a.l. Star Alliance, Oneworld dan Skyteam.

Tujuan dari aliansi tersebut antara lain sebagai upaya untuk memperluas konektivitas dan meningkatkan penjualan mereka, serta memangkas biaya. Selain itu, aliansi juga menjadi sarana promosi maskapai.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
maskapai penerbangan

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top