Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inaca Kritisi Penurunan Trafik Penerbangan di Bandara Soetta

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional (Inaca) mengkritisi penurunan frekuensi pergerakan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta menjadi 60 pergerakan penerbangan per jam dari 72 pergerakan per jam.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 Oktober 2015  |  16:06 WIB
Pesawat sesaat usai mendarat di bandar udara internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (25/6).  - Antara
Pesawat sesaat usai mendarat di bandar udara internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (25/6). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional (Inaca) mengkritisi penurunan frekuensi pergerakan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta menjadi 60 pergerakan penerbangan per jam dari 72 pergerakan per jam.

Sekretaris Jenderal Inaca Tengku Burhanuddin menilai Kemenhub harus memperjelas latar belakang rencana kebijakan tersebut. "Tujuannya apa, efeknya apa, harus lah dipelajari dulu, jangan terburu-buru untuk membuat suatu aturan," katanya di sela-sela Rapat Umum Anggota Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Indonesia (Inaca) di Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Menurut dia, penurunan pergerakan penerbangan tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi karena semakin ekonomi tumbuh pergerakan orang dengan pesawat akan semakin meningkat. "Semakin ekonomi tumbuh, traffic penerbangan akan semakin padat dan bertambah terus, kita jangan melangkah mundur, kita mesti maju, melangkah ke depan," katanya.

Tengku menuturkan untuk mengantisipasi padatnya pergerakan penerbangan bisa dilakukan dengan memperbaiki infrastruktur di sisi udara, yakni penambahan "runway" atau landasan pacu, apron, taxi oleh PT Angkasa Pura serta peralatan navigasi oleh Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI/Airnav Indonesia).

Terkait latar latar belakang kurangnya tenaga pemandu lalu lintas udara atau ATC, Tengku menilai hal itu bisa dilakukan dengan menambah sumber daya manusia (SDM).

"Ibaratnya jalanan macet, solusinya menambah jalan atau menambah angkutan umum yang bagus, bukan stop produksi mobil," katanya. Dia menambahkan pemerataan jadwal penerbangan hingga malam hari dinilai tidak efektif karena harus membutuhkan SDM yang lebih banyak.

Marketing Manajer PT Kalstar Aviation. Mochammad Zainuddin mengaku tidak begitu terdampak dengan rencana kebijakan tersebut karena maskapainya hanya memiliki dua rute penerbangan dari Jakarta, yakni Jakarta-Pangkalan Bun dan Jakarta-Sampit. "Mungkin maskapai-maskapai besar akan terdampak sekali, kalau kita hanya punya dua rute," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Air Asia Sunu Widyatmoko mengatakan rencana peraturan tersebut pasti akan berdampak kepada penumpang. "Pengurangan frekuensi penerbangan tentu dampaknya ke penumpang, saya masih belum tahu bagaimana mengantisipasinya. Kita harus berpikir lagi kalau memang ada pengurangan," katanya.

Terkait akan adanya perubahan jadwal penerbangan karena akan merata ke malam hari, Sunu mengatakan pihaknya masih mengkaji. "Kita tidak mau berandai-andai, wait and see dulu lah," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bandara soekarno-hatta

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top