Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OKUPANSI RENDAH: 4 Hotel di Pekanbaru Tutup Usaha

Empat perusahaan perhotelan di Pekanbaru menutup bisnisnya sepanjang tahun ini karena tingkat keterisian yang sangat rendah.
Gemal Abdel Nasser
Gemal Abdel Nasser - Bisnis.com 17 September 2015  |  18:25 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, PEKANBARU— Empat perusahaan perhotelan di Pekanbaru menutup bisnisnya sepanjang tahun ini karena tingkat keterisian yang sangat rendah.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Riau Ondhi Sukmara mengatakan salah satu yang menyebabkan okupansi hotel rendah karena kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru.

Empat hotel non bintang tersebut adalah Hotel Asean Baru, Hotel bunda, Hotel Gemini dan Hotel Taskurun. “Penyebabnya karena tidak mampu bersaing. Okupansinya rendah. Apalagi saat kabut asap, seperti sekarang,” katanya Kamis (17/9/2015).

Menurut Ondhi, agar bisnis perhotelan untung, okupansi harus berada pada level 60%.  

Kini, okupansi perhotelan hanya berada pada level 34%. Okupansi Riau jauh pada target yaitu hanya pada level 30% pada Semester I/2015. Okupansi juga tidak memberikan dampak positif saat libur sekolah dan libur Lebaran.

“Karena kita bukan daerah wisata,” katanya.

Namun, bagi pemerintah, bisnis perhotelan di Pekanbaru masih diminati investor. Tiga investor dalam negeri siap membangun tiga hotel di Pekanbaru pada tahun ini. 

Hotel-hotel yang tengah dibangun itu, antara lain PT Putra Mahkota Raya membangun hotel berbintang empat dengan nilai investasi Rp110 miliar. Hotel itu akan didirikan di Jalan Riau.

Kemudian, PT Tribersa akan membangun hotel dengan nilai investasi Rp83,5  miliar. Hotel tersebut dibangun di Jalan Jenderal Sudirman dan PT Royal Asnof Mandiri akan membangun hotel melati senilai Rp3,6 miliar di Jalan Tuanku Tambusai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hotel investor
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top