Lagi-lagi Bahan Baku Impor Produk Kemasan Terkena Tuduhan Antidumping

Direktur Eksekutif Federasi Pengemasan Indonesia (APF) Hengky Wibawa mengatakan penyelidikan antidumping produk biaxially oriented polypropylene (BOPP) menjadi yang kesekian kali menyusul beberapa produk bahan baku industri kemasan lainnya yang juga dikenakan tuduhan serupa.
Muhammad Avisena
Muhammad Avisena - Bisnis.com 04 September 2015  |  21:37 WIB
Lagi-lagi Bahan Baku Impor Produk Kemasan Terkena Tuduhan Antidumping
Kemasan plastik BOPP. - Ilustrasi/adhtape.com

Bisnis.com, JAKARTA – Direktur Eksekutif  Federasi Pengemasan Indonesia (APF) Hengky Wibawa mengatakan penyelidikan antidumping produk biaxially oriented polypropylene (BOPP) menjadi yang kesekian kali menyusul beberapa produk bahan baku industri kemasan lainnya yang juga dikenakan tuduhan serupa.

Dengan adanya kemungkinan penerapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) pada produk BOPP impor asal Thailand dan Vietnam, para pelaku usaha di hilir industri yaitu industri kemasan akan mendapatkan dampak negatif.

Hengky menilai, saat ini supply chain dari hulu ke hilir di Indonesia tidak dalam kondisi yang sehat. Sebabnya, dari sektor hulu, kebutuhan untuk bijih plastik tidak pernah terpenuhi secara 100% dari dalam negeri sejak tahun ‘80-an. Tidak adanya investasi di sektor tersebut menjadi penyebab utama.

Sementara itu, teknologi yang digunakan untuk industri plastik terus berkembang. Di negara-negara lainnya, mereka mampu melakukan inovasi teknologi yang membuat biaya produksi menjadi lebih efisien. Sedangkan di Indonesia, industri hulu yang tidak mampu mengimbangi perkembangan tersebut masih ingin bersaing, tetapi dengan cara meminta perlindungan.

“Ini menurut saya tidak fair. Mereka tidak bersaing dengan Thailand dan sebagainya yang lebih sehat. Di dalam negeri tidak kompetitif dari segi harga dan inovasi teknologinya, sebetulnya karena itu.”

Dari sisi harga, Hengky mencontohkan untuk produk polyester misalnya, selisih harga produk dalam negeri dan luar negeri bisa mencapai sekitar 20%, walaupun saat ini seharusnya harga produk dalam negeri bisa lebih kompetitif karena adanya depresiasi rupiah. Sementara untuk BOPP, selisih harga produk dalam negeri dengan produk luar tidak sebesar polyester.

Pasokan dari dalam negeri produk BOPP diperkirakan mencapai 270.000 ton per tahun. Sementara kebutuhan dari dalam negeri, dengan kondisi ekonomi saat ini, diperkirakan hanya berkisar antara 150.000 ton – 170.000 ton.

“Kami pengusaha di bidang packaging, kalau bisa disuplai dengan harga yang sama dari dalam negeri, pasti kita memilih dari dalam negeri,” kata Hengky.

Alasannya, lanjut Hengky, penggunaan suplai bahan BOPP dari dalamnegeri akan lebih memudahkan pengusaha karena akan membuat biaya logistik menjadi lebih rendah.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dumping

Editor : Bastanul Siregar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top