Pelaku Industri CPO Bantah Picu Emisi Karbon

Pelaku industri kelapa sawit menolak dikambinghitamkan atas laju deforestasi Indonesia yang memicu peningkatan emisi karbon di sektor kehutanan.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 10 Agustus 2015  |  15:29 WIB
Pelaku Industri CPO Bantah Picu Emisi Karbon
Seorang pekerja memuat bongkahan kelapa sawit ke atas mobil truk di pinggir jalan raya Palembang-Prabumulih, Sumsel - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri kelapa sawit menolak dikambinghitamkan atas laju deforestasi Indonesia yang memicu peningkatan emisi karbon di sektor kehutanan.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang membeberkan dari 1990 sampai 2012 laju deforestasi Indonesia rata-rata mencapai 1 juta hektar per tahun. Dengan kata lain selama rentang waktu tersebut ada 22 juta hektar hutan alam yang beralih fungsi.

“Tapi hingga saat ini lahan sawit Indonesia hanya 10 juta–12 juta hektar. Jadi kontribusi sawit terhadap deforestasi kurang dari setengah. Itupun pada 1990 sudah ada 3 juta hektar lahan kelapa sawit,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Togar, fakta-fakta itu semestinya dapat membalikkan asumsi yang berkembang selama ini bahwa pengusaha kelapa sawit berperan besar atas meningkatnya emisi karbon di sektor kehutanan.

“Jadi kami tidak ingin jadi kambing hitam, kambing coklat. Mudah-mudahan sekarang kambing putih,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Karliansyah mengungkapkan industri kelapa sawit merupakan salah satu penyumbang emisi karbon di Indonesia.

Adapun, sumber-sumber potensial emisi akibat alih fungsi hutan seperti pembukaan lahan baru, penanaman, pembibitan, hingga peremajaan.

Sementara itu, produksi gas rumah kaca berasal dari kolam instalasi pengolahan air limbah (IPA) anaerobik yang menghasilkan gas metan. Tandan kosong sawit yang ditumpuk di sekitar pabrik juga salah satu sumber emisi gas metan.

Menurut Karliansyah, reduksi emisi di industri kelapa sawit bisa dilakukan dengan pengurangan pemakaian  batu bara dan pupuk kimia pada pengolahan limbah. Selain itu limbah yang dihasilkan tandan kosong, cangkang atau serabut, dan air limbah bisa dikonversi ke energi lain.

“Air limbah bisa diolah menjadi sumber energi biogas,” katanya.

Karliansyah menilai industri kelapa sawit berwawasan lingkungan menjadi opsi paling rasional untuk memangkas emisi. Pasalnya, industri itu tercatat sebagai sumber devisa terbesar negara di luar migas.

Tahun lalu, Indonesia mengeskspor 21,7 juta ton minyak sawit mentah atau naik 2,5% dibandingkan 2013. Jumlah itu menjadikan negeri ini sebagai eksportir terbesar di dunia.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hutan, gapki, kelapa sawit, emisi karbon, kementerian lingkungan hidup dan kehutanan

Editor : Bastanul Siregar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top