Presiden Groundbreaking Pabrik Amonia Senilai US$830 Juta

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) hari ini, Minggu (2/8/2015) meresmikan pemancangan tiang perdana (groundbreaking) pembangunan pabrik amonia milik PT Panca Amara Utama (PAU) di wilayah Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Emanuel B. Caesario | 02 Agustus 2015 21:04 WIB
Ilustrasi: Ammonia Plant - phxequip.com

Bisnis.com, Sulawesi Tengah - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) hari ini, Minggu (2/8/2015) meresmikan pemancangan tiang perdana (groundbreaking) pembangunan pabrik amonia milik PT Panca Amara Utama (PAU) di wilayah Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Pembangunan pabrik amonia di lahan seluas 192 hektar dengan nilai investasi sebesar US$830 juta tersebut merupakan komitmen PAU dalam mendukung kebijakan Pemerintah terhadap peningkatan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, terutama pemanfaatan gas bumi sebagai bahan baku utama pembuatan amonia.

Selain melakukan groundbreaking pabrik amonia milik PAU, Presiden Jokowi juga meresmikan mega proyek Pertamina terintegrasi, di antaranya Central Processing Plant JOB Pertamina Medco E&P Tomori Sulawesi, pengapalan perdana kargo PT Donggi Senoro LNG dan pengoperasian lapangan gas GG Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java.

Presiden Direktur PAU Garibaldi Thohir menjelaskan groundbreaking Pabrik Amonia yang dilakukan oleh Presiden RI menjadi bukti bahwa kehadiran pabrik ini memiliki peran penting dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya industri manufaktur nasional.

"Kami bersyukur kegiatan groundbreaking hari ini berjalan lancar. Semoga pembangunan pabrik amonia ini akan selesai tepat waktu dan dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi dan Indonesia bagian timur," jelas Garibaldi dalam siaran pers, Minggu (2/8/2015).

Garibaldi menjelaskan pabrik yang dibangun PAU ini akan memproduksi amonia, senyawa kimia yang digunakan dalam pembuatan pupuk, bahan peledak, asam dan produk petrokimia lainnya.

Pabrik ini memiliki kapasitas produksi amonia sebesar 700 ribu ton per tahun. Pasokan gas bumi berasal dari blok Senoro - Toili sebesar 55 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Dalam pembangunan proyek tersebut, PAU menggandeng PT Rekayasa Industri, salah satu BUMN konstruksi ternama, sebagai kontraktor utama.

Pabrik PAU akan menggunakan teknologi amonia paling mutakhir di dunia, yaitu KBR Reforming Exchanger System (KRES) dan Purifier dari Kellogg Brown & Root (Houston, Amerika Serikat) yang menggunakan energi dengan sangat efisien.

"Teknologi ini merupakan aplikasi yang pertama di Asia dan akan menempatkan Indonesia di baris terdepan dalam produksi amonia di dunia.
Kami sangat bangga, karena produksi amonia dari pabrik di Kabupaten Banggai ini merupakan inisiatif lokal dan dikerjakan oleh kontraktor nasional. Proyek ini akan menjadi hasil karya dan kerja keras putra putri Indonesia dengan mengoptimalkan sumber daya alam nasional, kata Garibaldi.

Proyek produksi amonia PAU diyakini akan menciptakan multiplier effect yang sangat positif bagi perekonomian Indonesia dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia bagian timur, terutama dalam aspek pemberdayaan masyarakat dan pertumbuhan bisnis sekaligus juga menciptakan lapangan kerja di Banggai, Sulawesi Tengah.

PAU memiliki komitmen tinggi untuk memberdayakan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di wilayah Indonesia Timur. "Kami yakin dan berharap proyek ini akan berjalan dengan lancar sehingga dapat memberikan manfaat yang maksimal baik kepada masyarakat sekitar maupun kepada bangsa dan negara," jelas Vinod Laroya, Direktur Eksekutif dari PAU.

Sebelumnya di tahun 2014, PAU telah mendapatkan pendanaan pinjaman sindikasi sebesar US$ 509 juta yang dipimpin oleh International Finance Corporation, sebuah organisasi terpercaya kepanjangan tangan dari Bank Dunia, beserta dengan 7 bank internasional.

Investasi IFC di PAU merupakan yang terbesar di Asia dalam dekade terakhir dan menjadi kepercayaan kuat bagi PAU dan potensi investasi di Indonesia.

Selain itu, dalam masa konstruksi PAU, konten lokal yang digunakan sangat tinggi - 61% dari Biaya Proyek dan 87% dari Beban Usaha yang akan dibelanjakan di Indonesia, jelas Vinod.

Sementara itu, sebagai induk usaha, PT Surya Esa Perkasa mendukung penuh langkah PAU dalam menjalankan bisnis pabrik amonia di wilayah Indonesia bagian timur.

Direktur PT Surya Esa Perkasa Tbk. Isenta mengatakan, pembangunan pabrik amonia dari PAU memiliki nilai penting bagi penguatan bisnis Perusahaan.

Sebagai pemegang saham terbesar di PAU, beroperasinya pabrik amonia tersebut akan memastikan kinerja dan fundamental SEP semakin terjaga, sehingga nilai perusahaan akan terus bertumbuh secara optimal.

"Pabrik Amonia PAU tidak hanya akan menggerakkan perekonomian Indonesia, khususnya di Indonesia bagian timur. Sebagai pemegang saham, fundamental SEP tentunya juga akan bertambah solid dan memperkuat nilai perusahaan dalam jangka panjang," jelas Isenta.

Tag : Pabrik Amonia
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top