Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hadapi MEA, Bagaimana Kesiapan Industri Mamin di Jatim?

Para pelaku industri makanan dan minuman di Jawa Timur diminta mengebut perisapan kualitas, standar, dan sumber daya manusia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 29 Januari 2015  |  16:56 WIB
Penjualan produk industri makanan dan minuman.Perlu kesiapan menghadapi MEA - Bisnis
Penjualan produk industri makanan dan minuman.Perlu kesiapan menghadapi MEA - Bisnis

Bisnis.com, SURABAYA—Para pelaku industri makanan dan minuman di Jawa Timur diminta mengebut perisapan kualitas, standar, dan sumber daya manusia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Ketua Gabungan Industri Makanan dan Minuman (Gapmmi) Jatim Yapto W. Sinatra mengatakan industri makanan dan minuman (mamin) dapat menjadi tulang punggung provinsi saat MEA tiba. Apalagi, jumlahnya adalah yang terbesar di Indonesia.

Tercatat ada sekitar 650 produsen mamin dari 700.000 UKM dan UMKM di Jatim. Yapto menilai masifnya pengusaha mamin di provinsi tersebut dapat menjadi peluang sekaligus tantangan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan memperluas pangsa pasar saat MEA.

“Ketika MEA diberlakukan, barang dan jasa akan dibebaskan di Asean. Perdagangan intra-Asean akan mencapai 25%. Nah, di Indonesia ini 90% industri mamin masih berskala kecil menengah, tapi kontribusinya [terhadap perekonomian] 15% lebih,” katanya, Kamis (29/1/2015).

Dia juga menyebut UKM mamin di Jatim selama ini menjadi salah satu sektor andalan dalam pengurangan pengangguran, penaikan pendapatan domestik, dan berkontribusi banyak dalam memajukan perekonomian provinsi.

“Agar tidak minder dalam bersaing dengan industri mamin lain di Asean, pelaku UKM mamin di Jatim harus meningkatkan kualitas usaha yang sudah dibangun, sehingga para wirausahawan dapat mencermati cara berbisnis ke negara-negara di Asia Tenggara,” paparnya.

Selama ini, kata Yapto, produk mamin Jatim sudah banyak diekspor ke Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Kamboja, Brunei Darussalam, Myanmar, dan Timor Leste. Selain itu, juga telah menembus pasar China, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong.

Sejak 2014, lanjutnya, produksi industri mamin di Jatim juga terus naik seiring dengan semakin dekatnya implementasi MEA. Atas dasar itu, dia yakin pada 2015 ini omzet penjualan mamin di pasar Asean dapat meroket.

 “Dengan berlakunya MEA, maka kita bisa mengambil kesempatan menaikkan penjualan kepada importir produk mamin di luar negeri khususnya Asean,” ujarnya. Dia menambahkan para pelaku industri mamin tidak perlu terlalu khawatir dengan potensi banjir impor.

 Sebab, dengan masuknya mamin impor saat MEA, masyarakat bisa lebih leluasa memilih produk yang berkualitas dan sudah berlabel ML dari BPOM. Dengan demikian, para pengusaha mamin di Jatim akan lebih terdorong untuk berkompetisi.

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jawa timur
Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top