Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Minuman Ringan Jus Banyak Impor Bahan Baku

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) SurosoNatakusuma mengakui besarnya ketergantungan bahan baku dan penunjang impor bagi industri makanan dan minuman.
Dini Hariyanti
Dini Hariyanti - Bisnis.com 30 Oktober 2014  |  18:50 WIB
Minuman Ringan Jus Banyak Impor Bahan Baku
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA--Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) SurosoNatakusuma mengakui besarnya ketergantungan bahan baku dan penunjang impor bagi industri makanan dan minuman.

 “[Di industri minuman] yang paling besar impornya industri minuman jus dan besarannya tergantung jenis jusnya,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (30/10/2014).

 Untuk jus apel dan jeruk porsi bahan baku impornya mencapai 100%. Di dalam minuman jus mangga persentasenya sekitar 80%, jambu sekitar 50%, soursop berkisar 40%.

Pelemahan kurs membuat harga barang impor melambung begitu pula ongkos produksi. Harga jual minuman bisa naik hingga 10%. Untuk menaikkan harga produsen perlu melihat lebih jauh daya beli konsumen karena akan memengaruhi penjualan mereka.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diolah Kementerian Perindustrian diketahui selama Januari - Juni tahun lalu nilai impor makanan dan minuman (mami)n tercatat US$2,98 miliar. Pada kurun waktu yang sama tahun ini nilainya meningkat jadi US$3,01 miliar. Adapun total impor mamin sepanjang tahun lalu sejumlah US$5,80 miliar.

Kendati demikian industri mamin tetap menarik di mata investor. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat pada Januari - September tahun ini kapital yang terbenam senilai Rp40,7 triliun gabungan dari dalam negeri dan asing.  Nilai tersebut setara dengan 11,9% dari total investasi yang masuk ke Tanah Air.

Suroso berpendapat mamin temasuk minuman ringan tetap prospektif untuk menjaring investasi. Hal ini terpengaruh perkembangan daya beli masyarakat yang membuat pasar domestik semakin potensial.

Catatan merah yang mencederai iklim investasi di Tanah Air tetap soal ketidakpastian prosedur birokrasi. “Persiapan dari pengajuan izin sampai ada keputusan saja memakan waktu sampai setahun, ini yang dikeluhkan investor,” tuturnya.

Sebetulnya proses perizinan hingga 12 bulan bukan masalah. Tapi sejak awal perlu ada kepastian bahwa kurun waktu yang dibutuhkan memang demikian. Yang membuat pemodal tak nyaman adalah periode ini tidak pasti, bisa diperkirakan enam bulan, setahun, bahkan lebih lama lagi.

Asrim memproyeksikan perluasan pasar minuman ringan pada tahun ini sejauh 6% - 7%, ini mencakup minuman berbasis teh. Porsi air minum dalam kemasan (AMDK) sekitar 40% – 45%, sedangkan minuman berbasis teh sekitar 30%.

Perputaran bisnis di industri minuman ringan pada tahun lalu sekitar Rp70 triliun – Rp100 triliun. Pertumbuhan yang bisa dicapai pada tahun ini berkisar 5% - 6%. Produk terlaris sejauh ini tetap dipegang minuman dalam kemasan botol.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minuman industri makanan minuman
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top