Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Budayawan Sebut Asing Hendak Caplok Kretek Indonesia

Budayawan Mohammad Sobary menilai kelompok antirokok yang mendesak Presiden SBY untuk segera mengaksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) tidak lepas dari intervensi pihak asing.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 13 Oktober 2014  |  09:07 WIB
Budayawan Sebut Asing Hendak Caplok Kretek Indonesia
Ilustrasi - tembakau. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Budayawan Mohammad Sobary menilai kelompok antirokok yang mendesak Presiden SBY untuk segera mengaksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) tidak lepas dari intervensi pihak asing.

"Pihak asing yang penuh watak angkara murka hendak mencaplok bisnis kretek yang luar biasa besar ini," kata Sobary Senin (13/10/2014).

Kang Sobary, begitu ia disapa, menambahkan segenap aturan mengenai tembakau dan produk-produk olahannya disusun berdasarkan masukan kepentingan asing, yang mengandalkan aturan-aturan dari FCTC. Konyolnya, pemerintah meng-copy mentah-mentah aturan tersebut untuk diterapkan di Indonesia.

“Aturan-aturan yang diterapkan terhadap tembakau dan industri hasil tembakau pada hakekatnya dibuat berdasarkan alasan-alasan palsu dengan menekankan alasan demi kesehatan masyarakat sebagai cara dan strategi ampuh membasmi kretek,” terangnya.

Dijelaskannya, ketika argumen demi kesehatan masyarakat itu tidak manjur, digantilah argumen ekonomi bahwa merokok itu pemborosan. Argumen ekonomi inipun tak begitu berpengaruh.

Tetapi pelobi asing dibantu aparat pemerintah dari pusat hingga ke daerah-daerah, kaum profesional, para dokter, kaum aktivis, dan seniman dengan penuh semangat menelan argumentasi ini tanpa mau berpikir kritis atas argumentasi tersebut. “Semua siap menjadi makmum, dan mengamini argumen palsu itu,” tegas Sobari.

Dan akhirnya, lanjut Sobary, karena argument kesehatan dan ekonomi juga tak cukup meyakinkan, mereka menggunakan argument moral, melobi ormas keagamaan seperti Muhammadiyah dan Majelis Tarjih dalam organisasi itu, bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyusun fatwa haram atas kretek.

"Sekali lagi, semua ini argumen palsu, untuk menutupi alasan yang sebenarnya, yakni perang dagang. Apa yang sedang terjadi ialah perang dagang,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri rokok

Sumber : Newswire

Editor : Sepudin Zuhri

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top