Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Memahami Nilai Sehelai Kain Batik Tulis

Harga sehelai kain batik tulis yang mahal tentu ada alasan di balik itu.
Atiqa Hanum
Atiqa Hanum - Bisnis.com 29 September 2014  |  00:24 WIB
Memahami Nilai Sehelai Kain Batik Tulis

Bisnis.com, JAKARTA--Harga sehelai kain batik tulis yang mahal tentu ada alasan di balik itu.

Batik Danar Hadi mematok harga mulai dari Rp500.000 an hingga jutaan rupiah untuk satu helai kain belum siap pakai.

Hal tersebut tidak terlepas dari bahan kain yang dipakai dan tingkat kesulitan pembuatannya hingga teknik pewarnaan yang bagaimana.

"Tentu batik tulis lebih mahal, karena pembuatannya saja bisa satu hingga tiga bulan lamanya. Belum lagi kalau warnanya banyak dan sulit itu dikerjakan satu-satu, jadi kita menjual karya seni bukan hanya sehelai kain saja," ungkap Managing Director Diana Santosa di Pabrik PT Batik Danar Hadi, Solo beberapa waktu lalu.

Tentu sesorang yang ingin memiliki batik berkualitas tinggi harus merogoh kocek cukup dalam. Namun, saat ini ada pula teknik dengan menggunakan digital printing hampir menyamai batik tulis.

Kadang sesorang yang mengerti batik saat ini lebih banyak mencari kain yang terlihat tidak simetris dan itu menandakan ada seseorang yang membuatnya walaupun bisa dibuat dengan sangat teliti.

"Iya, sekarang banyak pelanggan yang mencari ada goresan sedikit akibat canting atau garis yang tidak simetris," ujar salah satu penjaga toko Batik Danar Hadi, Solo.

Saat mengunjungi pabrik itu tampai helaian kain yang belum digores apapun dinamakan mori, yakni selembar potongan kain putih kekuningan yang siap untuk dibatik.

Tidak lupa pembatik menyiapkan canting. Namun, sebelumnya ada tim yang mendesain motif apa yang akan digambar dengan membuat sketsa terlebih dahulu dari desain ke mori tersebut dengan menggunakan pensil 5B.

Desain tadi dengan menggunakan canting dilukislah sesuai garis/pola dengan lilin khusus. Teknik ini dinamakan klowongan.

Setelahnya, sebelum masuk proses pewarnaan kain itu harus di tembokan atau diberikan lilin yang sudah diklowong tadi agar tidak terkena pewarnaan saat dicelupkan. Teknik ini disebut tembokan.

Pewarnaan untuk batik saat ini sudah bermacam-macam. Dahulu, teknik ini disebut wedelan teknik pewarnaan dengan bahan alami atau tumbuh-tumbuhan seperti indigo atau akar maupun kayu.

Assisten Manager Museum Batik Danar Hadi menjelaskan ada beberapa kayu yang memang digunakan sebagai pewarna, misal seperti contoh yang ada di museum yakni kayu tingi, kayu jambal, kayu tegeran dan lain-lain.

Begitu pula lilin yang dipakai untuk setiap teknik disesuaikan dengan kegunaannya. Lilin tersebut diantaranya lilin tutupan, lilin biron, lilin tembokan, dan lilin klowongan.

Setelah kering, bisa ditutup kembali dengan lilin untuk pewarnaan kedua. Apabila telah selesai, kain itu akan memasuki tahap kerokan.

Dimana teknik untuk menghilangkan lilin dari kain dengan cara meletakkan kain tersebut dengan air panas diatas tungku. Teknik ini biasa disebut dengan nglorot.

Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting) untuk menahan warna pertama dan kedua.

Proses membuka dan menutup lilin dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan. Batik tersebut telah siap untuk digunakan.

Jadi, proses pembuatan yang panjang inilah tentunya kita sebagai penikmat batik harus menghargai hasil karya seseorang yang berjuang memertahankan kesenian tradisional yang harus terus dilestarikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batik danar hadi batik tulis
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top