Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investasi Ritel di Indonesia Timur Sepi Peminat

Kendala perizinan, logistik, dan sumber daya manusia (SDM) diklaim masih menjadi alasan dominan dibalik keengganan investor untuk menggencarkan ekspansi bisnis ritel modern di kawasan Indonesia Timur.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 16 September 2014  |  16:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Kendala perizinan, logistik, dan sumber daya manusia (SDM) diklaim masih menjadi alasan dominan dibalik keengganan investor untuk menggencarkan ekspansi bisnis ritel modern di kawasan Indonesia Timur.  

Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), bisnis ritel modern di Indonesia Timur hanya tumbuh rata-rata 5% per tahunnya. Sementara itu, peluang pertumbuhan usaha ritel modern yang ditawarkan Timur mencapai 10%-20%.

Potensi tersebut masih belum tergarap maksimal, terbukti dari konsentrasi pertumbuhan industri ritel modern yang terpusat di Indonesia Barat. Di kawasan Barat, bisnis ritel modern  sudah mampu tumbuh antara 30%-40%.

Sekjen Aprindo Satria Hamid  mengaku kendala utama lesunya bisnis ritel modern di belahan timur Nusantara adalah mahalnya biaya distribusi barang antarpulau. Kondisi itu diperparah dengan tantangan bahasa dan kultur masyarakat setempat.

“Perizinan juga menjadi faktor penghambat. Mendapatkan izin usaha untuk mengembangkan toko modern di kawasan Timur cukup susah. Kemudian, faktor SDM terampil yang siap bekerja juga menjadi penghambat, terutama untuk manajemen operasional ritel,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (16/9/2014).

Satria mengungkapkan pertumbuhan bisnis ritel modern di bagian timur Indonesia masih tersentral di Kalimantan dan Sulawesi. “Di timur, perkembangannya dipelopori Makassar, Manado, Balikpapan, Palangkaraya, dan Palu.”

PELUANG BESAR

Meski iklim investasi di timur belum cukup menggairahkan seperti di barat, para pemain ritel modern besar mengaku tetap akan menembus pasar timur mengingat peluang pengembangannya jauh lebih besar ketimbang di barat.

Satria menyebut wilayah timur memiliki nilai tambah berupa lahan yang masih sangat memungkinkan untuk pembangunan ritel skala besar. Hal itu berbanding lurus dengan pertumbuhan permintaan dari masyarakat setempat.

“Ini sejalan dengan kemauan kepala daerah yang juga mulai bisa melihat banyak hal positif jika ritel dikembangkan di daerahnya. Misalnya saja penyerapan tenaga kerja secara padat karya, pendistribusian produk yang merata, akses pasar untuk produk UMKM lokal, dan daya tarik wisata belanja.”

Untuk pengembangan ritel yang berbasis di timur, lanjut Satria, dibutuhkan daerah kabupaten atau kota sebagai penyangga di provinsi yang dinilai potensial untuk berkembang. Daerah penyangga tersebut akan memudahkan peritel untuk memenetrasi pasar.

 “Hal itu dapat dilihat dari semakin banyaknya ritel yang berjejaring nasional yang masuk dan membuka investasi untuk memajukan kota di wilayah timur Indonesia. Ujungnya, ini dapat menstimulus ekonomi daerah melalui sektor riil.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kawasan timur indonesia ritel modern
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top